Minggu, 20 Februari 2022

MERDEKA BELAJAR SEBAGAI REVOLUSI PENDIDIKAN ALA’ NADHIM MAKARIEM

 


 MERDEKA BELAJAR

SEBAGAI REVOLUSI PENDIDIKAN ALA NADHIM MAKARIEM

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

 

74 Tahun sudah kita merdeka. Merdeka dari penjajahan Belanda, Jepang dan Inggris, merdeka dari tekanan fisik dan nonfisik, merdeka bisa menentukan nasib sendiri, merdeka bisa mengisi negeri ini dengan karya inovatif.  Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang tidaklah mudah didapatkan tetapi membutuhkan perjuangan yang luar biasa dan pengorbanan yang tanpa mengenal lelah.

Kata merdeka menurut Kamus Besar Indonesia (KBBI) mempunyai  tiga arti, yakni 1. Bebas (dari penghambatan, penjajahan dan sebagainya), berdiri sendiri; 2. Tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3. Tidak terikat, tidak tergantung kepada orang atau pihak tetentu, leluasa. Sementara menurut Professor Driyarkara, salah satu pemikir besar Indonesia memaknai kemerdekaan sebagai kekuasaan untuk menentukan diri sendiri untuk berbuat atau tidak berbuat.

Hari ini kita mendengar kembali kata merdeka yang didengungkan oleh mendikbud Nadhim Makariem. Namun merdeka disini bukan dalam artian bebas dari penjajahan, tetapi merdeka dalam hal pendidikan dengan slogan “Merdeka Belajar”. Merdeka belajar sebagai revolusi pendidikan yang akan mempengaruhi terhadap proses dan hasil yang akan dicapai oleh siswa dan guru. Karena selama ini sejatinya guru belum merdeka sepenuhnya dengan adanya aturan-aturan yang mengikat dan harus ditaati oleh guru. Sehingga dengan aturan tersebut berdampak pada kebebasan inovasi guru yang kurang maksimal. Merdeka belajar juga bertujuan agar siswa, guru bahkan orang tua terlibat aktif dalam kegiatan belajar yang menyenangkan, menjadi bagian dari proses pendidikan yang membahagiakan.

Apabila guru diberi kebebasan untuk berinovasi, tentunya dengan menaati rambu-rambu yang ada. maka sudah dipastikan akan melahirkan anak didik yang kreatif, inovatif dan berkualitas.  Inilah  yang diharapkan oleh mendikbud ke depan dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Dengan konsep merdeka belajar ala Nadhim Makariem diharapkan ada sebuah terobosan yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Untuk mewujudkan konsep tersebut beliau mengeluarkan 4 program pokok kebijakan yakni : Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan peraturan penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Dari empat kebijakan tersebut salah satu yang sangat menarik ialah tentang penghapusan Ujian Nasional. Wacana penghapusan Ujian Nasional ini sudah didengungkan sejak lama. Setiap tahun akan diwacanakan akan dihapus. Baru Nadhim Makariem berani dengan tegas mengambil keputusan. Akan tetapi menurut Nadim Makariem UN sebenarnya bukan dihapus, tetapi diganti dengan formulasi yang berbeda. Pertama UN tidak dilakukan diakhir jenjang pendidikan sehingga UN tidak dipahami lagi sebagai penentu kelulusan. UN dikembalikan ke tujuan awalnya sebagai alat evaluasi pemerintah terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan pendidikan secara nasional. Kemudian formulanya diganti menjadi assessment kompetensi minimum dan survey karakter.

Assessment adalah suatu proses untuk mengetahui kemampuan seseorang terhadap suatu kompetensi berdasarkan buktu-bukti. Sementara survey karakter dimaksudkan untuk mengetahui karakter anak di sekolah secara khusus atau di lingkungan rumah secara umum. Dengan formulasi seperti itu diharapkan seorang guru lebih menitikberatkan pada prilaku seorang siswa sehingga menjadikan siswa lebih kreatif, inovatif dan mampu menghasilkan karya dibidang pendidikan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Dengan konsep merdeka belajar yang akan diterapkan nanti, sudah semestinya disambut dengan penuh sukacita oleh segenap pendidik terutama seorang guru. Dan tentunya harus disiapakn segala sesuatunya terutama 3 poin di bawah ini :

1.      Persiapan Mental

Hal yang paling utama sebagai persiapan dalam menerapkan konsep merdeka belajar ialah mental. Seorang guru tidak boleh ragu untuk berubah, tidak boleh takut untuk berkarya menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran yang sangat bermanfaat buat peserta didik. Dengan mental yang kuat, mereka akan mampu menghadapi segala kemungkinan yang datang. Pantang menyerah dan selalu ikhlas dalam menjalankan tugas dalam rangka mencerdaskan anak bangsa.

 

2.      Persiapan Pengembangan Diri

Hal yang tidak kalah penting ialah motivasi untuk terus belajar dalam rangka pengembangan diri. Ilmu dan keterampilan guru yang akan ditransfer kepada peserta didik haruslah berbanding lurus dengan input guru itu sendiri. Maka sungguh ironis apabila guru tidak mau mengembangkan dirinya. Dan akan berdampak pada generasi yang asal-asalan. Namun sebaliknya apabila guru terus mengasah dan mengembangkan kemampuannya, sudah dipastikan akan melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat dan akan terus menerus berkontribusi pada masyarakat dan lingkungannya.

 

3.      Persiapan Melek Digital

Di era industrial revolution 4.0 ini, ada banyak hal yang harus dicermati oleh Guru. Salah satunya adalah, bahwa sekolah sekarang bukan lagi satu-satunya tempat yang bisa diandalkan sebagai pusat informasi, demikian juga guru. Hal ini sebagaimana di kemukakan oleh futuris Willard Daget, bahwa “Dunia yang akan ditinggli anak-anak kita, berubah 4 kali lebih cepat daripada sekolah-sekolah kita.” (The Learning Revoluton, 2011,p.102).

Seorang guru tidak bisa lepas dengan informasi, komunikasi dan digitalisasi. Sehingga mereka harus selalu mengupdate pengetahuannya, keterampilannya baik secara manual maupaun melalui media social. Seolah-olah guru “dipaksa” untuk terus belajar agar terbiasa yang pada akhirnya bisa.

Walhasil, dengan langkah persiapan tersebut, diharapkan seorang guru mampu menyambut konsep merdeka belajar sebagai langkah awal perubahan dan kemajuan di bidang pendidikan.

 

SITU PAJAJAR DENGAN KEUNIKANNYA

 

 


SITU PAJAJAR DENGAN KEUNIKANNYA

Oleh :  Andri Dian Suandri, S.Pd.I

Majalengka, apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar Majalengka? Majalengka adalah sebuah kota kecil dengan panorama alam yang indah dan menawan. Hamparan padi yang mulai menguning menambah keindahan yang tak terhingga, Semilirnya udara yang sejuk dan segar mengantarkan Majalengka menjadi kota dengan julukan “Kota Angin”. Keanekaragaman budaya yang dimilikinya menjadi ciri khas yang tak tergantikan. Penduduknya mayoritas muslim seolah-olah Majalengka adalah replika Medinah di bumi Jawa Barat.

Majalengka dengan berbagai potensi yang dimilikinya sedang menggeliat menunjukkan eksistensinya. Walau tidak dapat dipungkiri sebagian orang masih kesulitan menemukan Majalengka. Salah satunya terungkap pada saat penyelenggaraan Lomba di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, 07 Februari 2020. Seorang warga Bekasi menanyakan dimana letak geografis serta sumber daya alam yang dimiliki kota tersebut.

Terlepas dari keakuratan literatur tentang Majalengka itu sendiri, diera teknologi komunikasi yang cepat sebagai kendaraan eksplorasi saat ini dapat digambarkan bahwa Majalengka memiliki potensi yang tersembunyi. Potensi inilah yang kemudian menjadi alasan Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta pemerhati kemajuan Majalengka untuk mengembangkannya. Salah satu potensi yang menjadi prioritas pemeritah daerah ialah sumber daya alam. Karena sumber daya alam di kabupaten Majalengka begitu melimpah dan menawan. Dan setelah dilakukan penelitian serta pemantauan secara intensif, terdapat destinasi-destinasi wisata yang sangat menarik juga perlu perhatian.

Salah satu destinasi wisata dengan suguhan keindahan alam yang menakjubkan, serta kedalaman sejarah yang mengesankan, yaitu Situ Pajajar. Lokasinya tepat di bawah kaki gunung Ciremai desa Pajajar kecamatan Rajagaluh. Sebuah lokasi yang cukup jauh dari pusat kota Majalengka sekitar + 20 KM. Untuk sampai ke lokasi ini, penulis sendiri pernah berkunjung pada bulan Pebruari 2020. Ternyata bisa melalui tiga jalur. Pertama, bisa melalui Rajagaluh terus menanjak melewati desa Kumbung setelah sampai di depan bale desa Pajajar, masuk ke gang kecil pedesaan arah selatan  sekitar 300 meter dan akan sampai di gerbang situ pajajar. Yang kedua jalur Maja terus menuruni jalan yang cukup sempit dan berliku melewati desa Sindang, Indrakila dan akan sampai di depan bale desa Pajajar. Yang ketiga jalur Tanjungsari terus menanjak melewati desa Gunung kuning dengan medan yang cukup terjal dan berbelok kemudian akan sampai juga di depan bale desa Pajajar. Sementara tiket masuk ke situ ini hanya Rp. 15.000 per-orang untuk dewasa dan Rp. 10.000 untuk anak-anak. Bila membawa kendaraan berupa mobil dikenakan biaya parkir Rp. 5.000 dan motor Rp. 3.000.

Situ ini memiliki keunikan yang jarang dimiliki tempat wisata lain di Majalengka. Lokasinya cukup dekat dengan penduduk, sehingga memudahkan akses masuk ke tempat tersebut, masyarakatnya yang terkenal ramah sehingga membuat pengunjung betah, terdapat peninggalan sejarah kerajaan Prabu Siliwangi yang ditandai dengan ditemukannya sebuah maqom berbentuk segi empat dengan ukuran 2 x 3 - 3 x 4 m, di tempat terpisah ditemukan pula sebuat batu besar dengan cekungan yang cukup lebar dan konon batu ini pernah dijadikan tempat tapanya Ir. Soekarno selama 10 hari, tujuh pancuran yang ada disekitar situ dengan airnya yang jernih dan menyegarkan, serta dua mata air yang tidak pernah surut sekalipun disaat kemarau panjang yaitu Mata Air Telaga Pancuran dan Mata Air Telaga Mas.

Para wisatawan rela menghabiskan waktunya berjam-jam untuk menikmati indahnya situ tersebut dan juga berziarah. Mereka datang bukan hanya dari Majalengka sebagai pribumi, tetapi dari Cirebon, Kuningan, Indramayu, bahkan dari Negara tetangga Malaysia pun sempat berkunjung, bukan hanya sekadar berlibur, tetapi melakukan ziarah Ke maqom Prabu Siliwangi.

Diantara para peziarah, sebagian dari mereka menginap di asrama dekat maqom prabu siliwangi, mereka membawa perbekalan sendiri, seperti pakaian, makanan, minuman, ada juga yang memesan makanan ke warung terdekat. Kegiatannya tahlil bersama, membaca Al Quran, shalat berjamaah dan dzikir. Tidak sedikit dari mereka yang menitikan air mata ketika berdo’a teringat akan kematian dan dosa-dosa yang pernah dilakukan.

 

Berdasarkan keterangan dari salah satu petugas situ ini yaitu kang Bayu. Beliau mengatakan, : “Dalam setahun para pengunjung yang datang ke Situ ini mencapai 1.000 s.d 1.500 orang, terutama di musim libur Sekolah atau di bulan Robi’ul Awwal (maulid) nabi Muhammad SAW”. Ujarnya. Hal ini memberikan dampak positif bagi pengelola situ ini maupun masyarakat desa Pajajar, bukan hanya dapat mengangkat perkonomian mereka, tetapi dapat mengenalkan keragaman budaya masyarakat Pajajar.

Luas objek wisata ini sekitar 4,5 hektar yang di kelilingi oleh desa Payung sebelah selatan, desa Indrakila sebelah barat, desa Teja sebelah timur dan desa kumbung sebelah utara. Jika dilihat dari kejauhan objek wisata ini nampak menyeramkan karena dikelilingi pepohonan besar dengan usia mencapai ratusan tahun. Tetapi setelah berada didalamnya, nampak indah dan menyejukkan. Dulu, situ ini hanya sebagai tempat bermain anak-anak, airnya yang begitu jernih pun hanya dimanfaatkan untuk mandi dan masak sehari-hari. Tetapi setelah adanya perhatian dari pemerintah, terutama dari pemerintahan desa Pajajar, akhirnya airnya dapat dimanfaatkan untuk PDAM kabupaten Majalengka, menyalurkan ke asrama TNI Batalyon 321 Tenjolayar, serta dimanfaatkan oleh puluhan desa disekitar situ pajajar dengan menggunakan ratusan meter paralon. Diantara desa yang memanfaatkan air ini yaitu desa Indrakila, Teja, Payung, Sindang, Kumbung, Singawada, Rajagaluh bahkan sampai Leuwimunding. Selain itu sebagian masyarakat desa Pajajar memanfaatkannya dengan membudidayakan ikan mas, nila, gurame, bahkan ada yang fokus terhadap budidaya ikan hias.

Kondisi situ pajajar saat ini semakin baik dan lengkap. Bukan hanya dari system pengelolaannya yang professional, tingkat keamanannya yang terjamin karena selalu berkerjasama dengan Polsek Rajagaluh, fasilitas yang di sediakannya cukup lengkap. Seperti kolam renang anak dan dewasa, terapi ikan, lokasi perkemahan dan juga out bond bagi para pelajar dan masyarakat umum.

Dengan demikian, sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin canggih. Maka promosi situ ini tidak hanya melalui spanduk atau baligho yang terpasang di tempat-tempat strategis, tetapi sudah memanfaatkan teknologi canggih dan dapat di akses oleh siapapun dan kapanpun.

 

 

                                                                                  

 

 

 

 

 

 

Selasa, 15 Februari 2022

SAUNG EURIH MEMANG NGANGENIN

 


 

SAUNG EURIH MEMANG NGANGENIN

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

 

Berawal dari ajakan sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu. Teman seperjuangan dalam suka dan duka disebuah organisasi. Beliau ingin silaturahim dan berbagi pengalaman supaya terjalin keakraban yang dirasakan seperti beberapa tahun lalu dimasa kuliah. Saung eurih jadi pilihan tepat dari sekian banyak tempat yang ada di Majalengka.

Ketika beliau mengajak saya dan rekan-rekan yang lain untuk bertemu di saung eurih, dengan tanpa sadar saya mengernyitkan dahi mendengar kata saung eurih. Padahal saya asli orang Majalengka namun lama di Bandung semasa kuliah.  Sehingga mendengar saung eurih serasa asing ditelinga.

Dalam benak saya, terbayang bahwa saung eurih merupakan tempat yang nyaman dan asri. Disekelilingnya terdapat tanaman eurih yang menghampar menambah keindahan dan keelokan. Ternyata, setelah berada dilokasi. Sesuatu yang saya bayangkan sebagian benar dan sebagian tidak. Memang lokasi ini sangat strategis karena berada di daerah perbukitan dan tidak terlalu jauh dari kota Majalengka.  

Tiba-tiba rasa penasaran itu muncul dan mencoba menerka-nerka. Apakah saung eurih itu restoran? Karena banyak yang makan bersama keluarga.  Ataukah ini hotel/tempat penginapan? karena ada juga beberapa tempat menginap. Atau jangan-jangan tempat pendidikan karena anak-anak sekolah juga berlalu lalang serta ada beberapa kegiatan pendidikan dan pelatihan. Wah, ini sangat menarik. Setelah beberapa jam dilokasi pun saya belum menemukan jawaban dari  makna saung eurih.

Saya pikir yang membuat nama lokasi ini sangat cerdas dan bijaksana. Karena dengan nama ini mendorong seseorang untuk penasaran yang akhirnya ingin membuktikan dengan berkunjung dan menikmati keindahan di lokasi saung eurih. Bahkan bukan hanya sendiri namun tidak sedikit yang mengajak keluarganya untuk datang ke tempat ini.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada beberapa pegawai yang ada dilokasi ini. Siapa pemilik tempat ini dan kenapa dinamakan saung eurih. Mereka menjelaskan bahwa pemilik saung eurih ini adalah kang Eman Kurdiman. Sementara nama saung eurih adalah nama sebuah komunitas pemuda yang berwirausaha berbasis pemberdayaan masyarakat, lingkungan hidup dan sosial di kelurahan Cicurug Majalengka.

Nama aslinya saung nanjung, sebenarnya saung eurih adalah komunitasnya. Dimana komunitas ini meunnjadikan saung nanjung sebagai tempat untuk beraktifitas. Yang pada akhirnya membuat nama itu tersemat dan menyebar di masyarakat. Memang, kalau dilidah sunda saung eurih akan lebih familiar dibanding dengan saung nanjung.

Dari sisi bahasa, nama saung eruih diambil dari kata saung yang bermakna ruang, sedangkan eurih artinya ilalang. Ilalang selalu dianggap sebagai perlawanan, susah diatur suka mengganggu. Tetapi kata ilalang tumbuh di tempat yang tepat ia bisa menjadi berguna.

Nah, inilah filosofi saung eurih, dimana pemiliknya menginginkan tempat ini menjadi berguna bagi siapa saja yang berkunjung. Dan siapapun yang singgah di tempat ini akan disuguhkan dengan suasana alam yang nyaman serta menu makanan khas sunda yang menggiurkan.

Kepenasaranan yang selama ini hadir dalam fikiran terjawab sudah. Sambil berkeliling ke selurah lokasi saung eurih dan menikmati suasana yang asri dan nyaman. Beberapa bangunan yang mirip dengan rumah padang begitu tertata rapih, mushola sekaligus tempat wudhu juga tersedia bahkan ada bangunan yang cukup luas sebagai tempat untuk kegiata-kegiatan besar yaitu aula. Sebagai daya tarik bagi para pengunjung terutama kaum milenial, disediakan pula beberapa spot photo yang bisa dimanfaatkan.

Selain itu menu makanan dan minuman khas sunda yaitu nasi liwet lengkap dengan lauk pauknya yang menggoda selera seperti sambel, asin, leunca, tahu-tempe juga teh anget tersedia dan harganyapun terjangkau. Sehingga tidak heran apabila pengunjung ke saung eurih tiap harinya bertambah terutama masa liburan.

Setelah menikmati menu makanan yang sangat pas dengan lidah sunda, muncul keinginan untuk mengajak keluarga atau anak-anak sekolah, ibu-ibu pengajian bahkan komunitas para penulis untuk menikmati suasana saung eurih yang sangat nyaman dan indah. Tidak lama dari kunjugan itu, saya ajak anak dan istri untuk berlibur dan menikmati suasana saung eurih yang memang sangat ngangenin.


 (Artikel ini dibuat dalam rangka lomba promosi Saung Eurih Majalengka)


Senin, 14 Februari 2022

MASYARAKAT RELIGIUS MENUJU MAJALENGKA RAHARJA

 



MASYARAKAT RELIGIUS MENUJU MAJALENGKA RAHARJA

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

Julukan Majalengka

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar Majalengka? kota angin. Pendapat ini bisa benar, karena memang di Majalengka anginnya cukup kencang terutama di musim kemarau. Tidak sedikit pepohonan yang tumbang akibat kencangnya angin tersebut. Kondisi ini dipengaruhi oleh letak geografi Majalengka yang berada dikaki Gunung Ciremai, sehingga hembusan anginnya begitu kencang. Dan jika angin sudah berhembus dengan kencangnya udara disekitarnya terasa panas. Kadipaten, Dawuan, Burujul, Jatiwangi merupakan daerah yang sangat panas ditambah dengan berdirinya pabrik-pabrik tekstil, makanan dan minuman di wilayah tersebut.

Kota layak anak. Pendapat inipun bisa jadi iya, karena Kabupaten Majalengka pernah meraih penghargaan sebagai salah satu kabupaten layak anak dari Kementrian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia di tahun 2019. Walaupun masih banyak yang perlu dibenahi sehingga muncul protes dari ketua LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) yang mempertanyakan penghargaan tersebut. Beliau menilai bahwa penghargaan tersebut hanya dilihat dari segi fasilitas umum yang dimiliki oleh pemda Majalengka. Sedangkan untuk pencegahan dan penanganan kasus kekerasan pada anak tidak menjadi indikator penilaian tertentu. Terbukti dengan masih banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan pelechan. Pada tahun 2019 saja terdapat 30 kasus kekerasan pada anak-anak di Kabupaten Majalengka. Tentu hal ini menjadi bahan masukan bagi pemda Majalengka supaya lebih intensif lagi terhadap perlindungan anak-anak. Sehingga predikat ‘Kota Layak Anak’ Kabupaten Majalengka bukan sekadar formalitas tetapi sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini Bupati Majalengka Karna Sobahi menegaskan bahwa “Penilaian sebuah penghargaan itu secara komprehensif, tidak hanya dari sebuah kasus. Adapun kekurangannya mari kita benahi bersama karena ini menjadi kewajiban kita semua”. Tegasnya.

Kota kecap. Julukan ini sangat melekat bagi Kabupaten Majalengka terutama pada tahun 70an sampai awal 1990-an karena pada waktu itu ratusan pabrik kecap bertebaran hingga pelosok Majalengka.  Beberapa merk kecap diantaranya Maja Menjangan, Ban Bersayap, Segitiga dan Ayam Jago sudah sangat familiar di masyarakat. Tapi masa itu sudah berlalu. Menurut data Dinas Koperasi dan UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Majalengka tahun 2013 pabrik kecap hanya tinggal 35 pabrik yang masih aktif. Hal ini dipicu oleh masifnya serbuan kecap-kecap produksi pabrik-pabrik besar sehingga pabrik kecap Majalengka kalah bersaing.

Terlepas dari itu, Pemda Majalengka tentu sangat berterimakasih kepada para perintis, pendiri dan penerus kecap Majalengka sebagai sebuah sejarah yang patut diapresiasi. Maka dibangunlah tugu kecap yang berdiri kokoh di sekitar pertigaan desa Tonjong. Icon ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar untuk berkunjung ke Kabupaten Majalengka. 

Kota sepi. Walaupun kedengarannya negatif, Majalengka sempat mengalami kondisi seperti itu. Sepi pembangunan, sepi kegiatan perekonomian, sepi pengunjung wisata bahkan sepi prestasi. Keadaan ini menyulitkan orang lain menemukan Majalengka terlebih tidak ada icon yang menjadi ciri khas Majalengka. Pendapat ini diperkuat dengan kejadian yang pernah dialami penulis pada saat mengikuti lomba pidato di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, 07 Februari 2020. Seorang warga Bekasi menanyakan dimana letak Majalengka dan apa saja sumber daya alam yang dimilikinya.

Julukan Majalengka sebagai kota sepi juga sangat terasa ketika menjelang malam hari. sekitar pukul 21.00 Wib. Lalu lalang masyarakat disekitar alun-alun Majalengka sulit ditemukan. Mereka lebih memilih tinggal di rumah daripada di luar rumah. Namun itu cerita lama, karena akhir-akhir ini Majalengka sudah menggeliat menunjukkan eksistensinya. Sejak tampuk kepemimpinan dipegang oleh bapak Sutrisno dan Karna Sobahi sebagai wakilnya selama dua periode Majalengka mulai berbenah. Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) sebagai bukti awal perubahan Majalengka. Dan ini menjadi angin segar bagi semua kalangan karena dengan berdirinya BIJB mampu menyedot perhatian masyarakat luar Majalengka. Bahkan puncak perubahan itu terjadi pada masa pemerintahan Karna Sobahi dan wakilnya bapak Tarsono. Pembangungan insfratuktur begitu masif, icon-icon Majalengka mulai digarap sebagai jatidiri Majalengka dengan mengusung visi Majalengka raharja. Maka tak heran apabila Majalengka hari ini menjadi salah satu kabupaten yang diperhitungkan di provinsi Jawa barat dengan potensi yang dimilikinya.  


 
        Kota wisata. Nah ini mungkin yang menjadi pembeda dengan kabupaten dan kota lain di Jawa Barat. Potensi wisata di Majalengka begitu melimpah dam beraneka ragam. Sekitar 45 destinasi wisata Majalengka yang belum dikelola secara serius oleh pemda Majalengka maupun pihak swasta. Padahal jika dikelola dengan baik dan profesional akan mengangkat nama kabupaten Majalengka dibidang pariwisata.

Pemda Majalengka kemudian menganalisis dan mendata potensi yang harus segera dikembangkan. Kordinasipun dilakukan dengan pemprov Jawa Barat. Alhasil, penggarapan destinasi pariwisata Majalengka dimulai secara serius dengan bantuan anggaran APBD daerah dan provinsi. Bahkan kang emil sapaan gubernur Jawa barat beberapa kali berkunjung ke Majalengka untuk mensupport pembanguan destinasi pariwisata agar menjadi tarap nasional. Beliau juga sempat sempat mengatakan bahwa Majalengka adalah kota mutiara yang tersembunyi.

Kota agamis. Dengan jumlah mayoritas masyarakat Majalengka beragama islam menjadi modal dasar julukan itu hadir. Kota agamis adalah kota yang ditunjang dengan sarana prasarana yang memadai serta masyarakatnya mampu mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dan gelar kota agamis menjadi harapan bapak bupati Majalengka agar kehidupan masyarakat Majalengka seimbang antara dunia dan akhirat. Tidak heran jika visi kabupaten Majalengka mengarah kepada hal itu. Religius adalah cita-cita tertinggi masyarakat kabupaten Majalengka.

Untuk mewujudkan visi tersebut. Karna Sobahi memprioritaskan program kerjanya yaitu pemberian insentif guru ngaji, perbaikan sarana dan  prasarana keagamaan, pembinaan kepada para pemuda dan tokoh masyarakat, melakukan kordinasi dan silaturahim kepada para kiyai serta memberikan reward bagi masyarakat yang berprestasi.

 

Keseimbangan pembangunan fisik dan non fisik

Majalengka adalah salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki luas wilayah yang cukup besar yakni 1.204,24 kilometer persegi. Kabupaten ini memiliki panorama alam yang indah dan menawan. Hamparan padi yang menguning menambah keindahan tak terhingga. Destinasi pariwisata terus dibenahi sehingga mengundang para wisatawan lokal maupun interlokal untuk menjajal keindahan Majalengka. Pembuatan bola dunia di daerah munjul menjadi icon tersendiri kabupaten Majalengka dan sempat viral pada awal pembangunannya. Sementara di sebelah utaranya terdapat taman dirgantara yang mengabarkan bahwa di Majalengka terdapat Bandara Internasional Jawa barat.  Taman-taman lainnya berderat rapih sepanjang jalan jantung kota Majalengka dengan lampu khias yang khas memanjakan masyarakat Majalengka. Dan renovasi mesjid agung Al Imam dilakukan secara total dengan konsep timur tengah ingin menegaskan Majalengka sebagai kabupaten agamis.

Pembangunan seperti ini ternyata berdampak kepada menggeliatnya perekonomian masyarakat. Pasar modern bergmunculan dan selalu penuh sesak oleh pengunjung. Seperti Jogja, Surya, UD. Begitu juga dengan Toko elektronik, kerajinan home industri serta kuliner khas Majalengka mebludak laksana jamur di musim penghujan.

Pemda Majalengka telah berhasil mengubah wajah Majalengka menjadi primadona. Pembangunan ini tentu akan berdampak kepada prilaku masyarakat. Sehingga pembanguan mental spiritual masyarakat juga harus seimbang. Beruntung Majalengka memiliki lembaga pendidikan formal maupun non formal bahkan puluhan pondok pesantren tersebar di wilayah Majalengka. Lembaga ini menjadi benteng kokoh dalam menjaga akhlak dan moral masyarakat.

Selain itu masyarakat patut berbangga karena memiliki tokoh nasional yang berkontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah seorang ulama yang kharismatik yakni KH Abdul Halim. Beliau asli orang Majalengka yang telah mendirikan organisai PUI Persatuan Ummat Islam sebagai wadah perjuangannya.

   Dengan seimbangnya pembanguna fisik dan non fisik, kehidupan masyarakat Majalengka sangat kondusif. Indikoatornya ialah kerukunan dan toleransi sangat terasa di wilayah Majalengka terutama di daerah-daerah. Jikapun ada permasalahan atau isu-isu yang meresahkan mampu diselesaikan secara kekeluargaan secara arif dan bijaksana oleh pemerintah setempat atau tokohnya seperti yang pernah terjadi di daerah maja.

Ini menjadi bukti bahwa pemerintah kabupaten majalengka telah berhasil menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan non fisik sehingga menjadikan masyarakat majalengka sejahatera. Hal ini selaras dengan visi majalengka yaitu RAHARJA.

 

Toleransi menjadi prioritas  

 Akhir-akhir ini sedang viral isu intoleransi. Hal ini dipicu an oleh banyak faktor. Salah satunya adalah pemahaman yang dangkal terhadap nilai-nilai keagamaan. Padahal kerukunan, tasamuh, saling menolong adalah bagian dari ajaran islam yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun kenyataanya masih banyak yang merasa benar sendiri, saling klaim, saling hujat bahkan sampai menyalahkan orang lain. Jika dibiarkan akan timbul perpecahan dan ketidakharmonisan. 

Masyarakat Majalengka harus mampu mengedepankan rasa toleransi yang tinggi, menahan diri setiap ada permasalahan dan tentu menyelesaikannya secara arif dan bijaksana. Membantu saudara-saudara yang membutuhkan seperti korban banjir, longsor, gempa bumi bahkan korban peperangan seperti yang terjadi di Palestina adalah wujud dari saling membantu. Selain itu, menghormati dan menghargai ibadah dan kepercayaan agama lain juga merupakan bagian dari toleransi.   

(Artikel ini telah dimuat di buku antologi Asosiasi Guru Penulis (AGP) Majalengka)

           

MARHABAN YA RAMADHAN

  MARHABAN YA RAMADHAN Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I Waktu terus berjalan seiring dengan perputaran bumi pada matahari. Hari ter...