Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I
Majalengka, apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar Majalengka? Majalengka adalah sebuah kota kecil dengan panorama alam yang indah dan menawan. Hamparan padi yang mulai menguning menambah keindahan yang tak terhingga, Semilirnya udara yang sejuk dan segar mengantarkan Majalengka menjadi kota dengan julukan “Kota Angin”. Keanekaragaman budaya yang dimilikinya menjadi ciri khas yang tak tergantikan. Penduduknya mayoritas muslim seolah-olah Majalengka adalah replika Medinah di bumi Jawa Barat.
Majalengka dengan berbagai potensi yang dimilikinya sedang menggeliat menunjukkan eksistensinya. Walau tidak dapat dipungkiri sebagian orang masih kesulitan menemukan Majalengka. Salah satunya terungkap pada saat penyelenggaraan Lomba di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, 07 Februari 2020. Seorang warga Bekasi menanyakan dimana letak geografis serta sumber daya alam yang dimiliki kota tersebut.
Terlepas dari keakuratan literatur tentang Majalengka itu sendiri, diera teknologi komunikasi yang cepat sebagai kendaraan eksplorasi saat ini dapat digambarkan bahwa Majalengka memiliki potensi yang tersembunyi. Potensi inilah yang kemudian menjadi alasan Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta pemerhati kemajuan Majalengka untuk mengembangkannya. Salah satu potensi yang menjadi prioritas pemeritah daerah ialah sumber daya alam. Karena sumber daya alam di kabupaten Majalengka begitu melimpah dan menawan. Dan setelah dilakukan penelitian serta pemantauan secara intensif, terdapat destinasi-destinasi wisata yang sangat menarik juga perlu perhatian.
Salah satu destinasi wisata dengan suguhan keindahan alam yang menakjubkan, serta kedalaman sejarah yang mengesankan, yaitu Situ Pajajar. Lokasinya tepat di bawah kaki gunung Ciremai desa Pajajar kecamatan Rajagaluh. Sebuah lokasi yang cukup jauh dari pusat kota Majalengka sekitar + 20 KM. Untuk sampai ke lokasi ini, penulis sendiri pernah berkunjung pada bulan Pebruari 2020. Ternyata bisa melalui tiga jalur. Pertama, bisa melalui Rajagaluh terus menanjak melewati desa Kumbung setelah sampai di depan bale desa Pajajar, masuk ke gang kecil pedesaan arah selatan sekitar 300 meter dan akan sampai di gerbang situ pajajar. Yang kedua jalur Maja terus menuruni jalan yang cukup sempit dan berliku melewati desa Sindang, Indrakila dan akan sampai di depan bale desa Pajajar. Yang ketiga jalur Tanjungsari terus menanjak melewati desa Gunung kuning dengan medan yang cukup terjal dan berbelok kemudian akan sampai juga di depan bale desa Pajajar. Sementara tiket masuk ke situ ini hanya Rp. 15.000 per-orang untuk dewasa dan Rp. 10.000 untuk anak-anak. Bila membawa kendaraan berupa mobil dikenakan biaya parkir Rp. 5.000 dan motor Rp. 3.000.
Situ ini memiliki keunikan yang jarang dimiliki tempat wisata lain di Majalengka. Lokasinya cukup dekat dengan penduduk, sehingga memudahkan akses masuk ke tempat tersebut, masyarakatnya yang terkenal ramah sehingga membuat pengunjung betah, terdapat peninggalan sejarah kerajaan Prabu Siliwangi yang ditandai dengan ditemukannya sebuah maqom berbentuk segi empat dengan ukuran 2 x 3 - 3 x 4 m, di tempat terpisah ditemukan pula sebuat batu besar dengan cekungan yang cukup lebar dan konon batu ini pernah dijadikan tempat tapanya Ir. Soekarno selama 10 hari, tujuh pancuran yang ada disekitar situ dengan airnya yang jernih dan menyegarkan, serta dua mata air yang tidak pernah surut sekalipun disaat kemarau panjang yaitu Mata Air Telaga Pancuran dan Mata Air Telaga Mas.
Para wisatawan rela
menghabiskan waktunya berjam-jam untuk menikmati indahnya situ tersebut dan
juga berziarah. Mereka datang bukan hanya dari Majalengka sebagai pribumi,
tetapi dari Cirebon, Kuningan, Indramayu, bahkan dari Negara tetangga Malaysia
pun sempat berkunjung, bukan hanya sekadar berlibur, tetapi melakukan ziarah Ke
maqom Prabu Siliwangi.
Diantara para peziarah, sebagian dari mereka menginap di asrama dekat maqom prabu siliwangi, mereka membawa perbekalan sendiri, seperti pakaian, makanan, minuman, ada juga yang memesan makanan ke warung terdekat. Kegiatannya tahlil bersama, membaca Al Quran, shalat berjamaah dan dzikir. Tidak sedikit dari mereka yang menitikan air mata ketika berdo’a teringat akan kematian dan dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Luas objek wisata ini sekitar 4,5 hektar yang di kelilingi oleh desa Payung sebelah selatan, desa Indrakila sebelah barat, desa Teja sebelah timur dan desa kumbung sebelah utara. Jika dilihat dari kejauhan objek wisata ini nampak menyeramkan karena dikelilingi pepohonan besar dengan usia mencapai ratusan tahun. Tetapi setelah berada didalamnya, nampak indah dan menyejukkan. Dulu, situ ini hanya sebagai tempat bermain anak-anak, airnya yang begitu jernih pun hanya dimanfaatkan untuk mandi dan masak sehari-hari. Tetapi setelah adanya perhatian dari pemerintah, terutama dari pemerintahan desa Pajajar, akhirnya airnya dapat dimanfaatkan untuk PDAM kabupaten Majalengka, menyalurkan ke asrama TNI Batalyon 321 Tenjolayar, serta dimanfaatkan oleh puluhan desa disekitar situ pajajar dengan menggunakan ratusan meter paralon. Diantara desa yang memanfaatkan air ini yaitu desa Indrakila, Teja, Payung, Sindang, Kumbung, Singawada, Rajagaluh bahkan sampai Leuwimunding. Selain itu sebagian masyarakat desa Pajajar memanfaatkannya dengan membudidayakan ikan mas, nila, gurame, bahkan ada yang fokus terhadap budidaya ikan hias.
Kondisi situ pajajar saat ini semakin baik dan lengkap. Bukan hanya dari system pengelolaannya yang professional, tingkat keamanannya yang terjamin karena selalu berkerjasama dengan Polsek Rajagaluh, fasilitas yang di sediakannya cukup lengkap. Seperti kolam renang anak dan dewasa, terapi ikan, lokasi perkemahan dan juga out bond bagi para pelajar dan masyarakat umum.
Dengan demikian, sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin canggih. Maka promosi situ ini tidak hanya melalui spanduk atau baligho yang terpasang di tempat-tempat strategis, tetapi sudah memanfaatkan teknologi canggih dan dapat di akses oleh siapapun dan kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar