Rabu, 15 Februari 2023

PERJALANGAN KE KOTA TEGAL

 

 

PERJALANGAN KE KOTA TEGAL

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

 

MENIKMATI INDAHNYA OBJEK WISATA GUCI

Kabut putih dan tebal menyelimuti angkasa raya, tetesan air hujan yang terus mengguyur bumi mengiringi perjalanan kami menuju Objek Wisata Guci, udara berhembus terasa sejuk menelusuk kulit seolah-olah ingin menyatu dengan hangatnya tubuh. Medan jalan yang terjal dan berliku membuat spot jantung berdegup kencang, terlebih pada saat belokan dan berpapasan dengan mobil berlawanan, memaksa bus yang kami tumpangi berhenti sejenak karena jalan yang sempit dan licin. Bahkan alunan musikpun mendadak dimatikan untuk menjaga konsentrasi pak supir. Ketua panitia selalu mengingatkan kepada peserta wisata untuk terus memanjatkan doa dan dzikir demi keselamatan kita semua. Sementara pak supir mengendarai busnya dengan tenang dan dan penuh konsentrasi.

Tiba di lokasi parkir bus sekitar pukul 08.30. Masih ditemani air hujan yang semakin deras. Hujan yang membawa berkah, hujan yang menjadikan suasana sejuk namun sekaligus menghawatirkan, karena kita berada diatas gunung dengan ketinggian ­+ 1.050 M diatas permukaan laut. Tetapi tidak membuat peserta tour kecewa. Rasa senang dan bersyukur nampak diraut wajah mereka karena dapat menghilangkan kepenatan dan kejenuhan setelah sekian hari beraktifitas.

Perjalanan kami dilanjutkan ke lokasi pemandian air panas. Dengan menggunakan mobil bak terbuka yang ditutup dengan terpal, supaya tidak kena air hujan. Satu mobil mampu menampung 12-15 orang. Kebahagiaan kami semakin terlihat setelah sampai di dekat kolam renang. Disitulah kami berpisah untuk mandi di kolam yang disukai. Ada yang di kolam renang dengan ticket 4.000 – 5.000, ada juga yang di pancuran tujuh dekat sumber mata air.

Yang sangat terkesan ketika mandi di air hangat Guci ialah ketika pertama kali kulit menyentuh air. Rasa panas sangat terasa karena kulit mulai beradaptasi sehingga tidak sedikit yang berteriak kepanasan, tetapi setelah beberapa saat berada di kolam renang terasa hangat dan tidak mau berhenti berenang. Bukan hanya orang dewasa, ibu-ibu, para pemuda, tetapi anak-anakpun ikut larut dalam suasana kebahagiaan dan kehangatan kolam renang Guci.

Memang kami akui, kolam renang air panas seperti ini jarang kami temui di daerah kami. Sehingga, sekalipun jaraknya cukup jauh dan berliku, dengan senang hati kami mengunjunginya. Mandi di air panas Guci dianjurkan tidak terlalu lama terlebih bagi yang memiliki penyakit darah tinggi, jantung koroner, liver, ginjal  dll. Maksimal 15 - 20 menit untuk menghindari resiko yang ditimbulkan.

Mereka sepertinya enggan berpisah dengan tempat ini. Namun hendak dikata, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah yang mereka takutkan namun akhirnya dialami pula.

Menjelang shalat Dzuhur, kami meninggalkan tempat yang indah ini. Sebelum memasuki mobil bak terbuka, kami sempatkan photo bersama dengan sebagian peserta. Ada juga yang sengaja membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah karena beranggapan harganya cukup terjangkau. Dan setelah semua peserta berkumpul, kami berangkat menuju bus yang sudah menunggu. Selamat tinggal Guci, gumamku dalam hati. Kapankah kami dapat kembali ke sini, itulah pertanyaan dalam bisikku. Mungkin semua peserta berbisik seperti ini. Karena terlihat di mata mereka, kerinduan, masih ingin bersama, dan enggan meninggalkannya.  

Perlahan bus yang kami tumpangi meninggalkan Guci dengan menyimpan rasa penasaran yang mendalam, kenapa tempat ini dinamakan Guci ? memang unik nama tempatnya dan tentu menyimpan sejarah yang penuh hikmah. Setelah kami mencari informasi tentang sejarah Guci barulah kami memahami.

Berdasarkan sejarahnya, nama Guci, konon berasal dari zaman Walisongo. Untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah bagian barat, khususnya di sekitar Tegal, diutuslah seorang wali. Wali tersebut dibekali air yang ditempatkan di dalam sebuah guci atau poci. Masyarakat percaya bahwa air dalam guci tersebut bisa berkhasiat sehingga berbondong-bondong meminta kepada sang wali.

Namun karena jumlah air tersebut jumlahnya terbatas, padahal masyarakat yang ingin menikmatinya begitu banyak, maka sang wali kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah. Ketika tongkatnya dicabut, ajaib, dari lubang di tanah bekas tongkat yang ditancapkan mengalir air panas.

"Air panas tersebut sampai kini masih mengalir dan dimanfaatkan masyarakat menjadi pemandian. Lalu, tempat tersebut kemudian terkenal dengan nama Guci," ucap pengelola Objek Wisata Guci, Abdul Haris.

Demikian sejarah Objek Wisata Guci yang sampai hari ini pengunjungnya terus  bertambah terutama di hari libur.

 

MENIKMATI ALUNAN OMBAK DI PANTAI PAI

Untuk menghibur peserta wisata yang masih rindu dengan Obyek Wisata Guci, panitia menutup kegiatan wisata kali ini dengan jalan-jalan ke Pantai Alam Indah di Kota Tegal Jawa Tengah. Letaknya cukup jauh dari obyek wisata Guci, sekitar 47 KM atau kalau menggunakan kendaraan sekitar 1 jam 35 menit.   

Di tengah perjalanan, kami sangat menikmatinya, terlebih ketika ketua panitia mendendangkan lagu-lagu andalannya yang membuat suasana di dalam bus terasa meriah.

Tiba di lokasi pantai sekitar pukul 12.30 WIB. Sebelum menuju pantai, kami melaksanakan shalat Dhuhur berjama’ah disalah satu Mesjid terdekat. Setelah itu, kami menuju bibir pantai yang sangat indah. Udara yang berhembus terasa sejuk seolah-olah menyambut kedatangan kami, deburan ombak kecil yang datang menghampiri menjadikan suasana terasa sempurna, cuaca pada saat itu cukup cerah sekalipun agak mendung. Benar-benar suasana yang sangat santai, penuh kekeluargaan dan kebahagiaan. Terlihat ada yang berjingkrak-jingkrak, mengambil photo bareng, dan tak sedikit pula yang selfi di bibir pantai.

Kata orang, pantai ini indah sekali. Sesuai dengan namanya Pantai Alam Indah, memang tidaklah berlebihan jika pantai ini dikatakan Pantai Alam Indah. Walaupun keindahannya tidak sebanding dengan pasir putih di Pangandaran. Tapi setidaknya cukup mengobati kerinduan kami akan keindahan pantai.

Lebih dari 2 jam  kami menikmati keindahan Pantai Alam Indah ini. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Kami pun bergegas menuju tempat parkir dimana bus rombongan kami mengunggu.

Akhirnya dengan berat hati, rombongan kami meninggalkan Pantai Alam Indah. Perlahan bus meninggalkan tempat parkir menuju Kota Majalengka. Selang beberapa menit, tak terdengar lagi suara, canda dan senda gurau peserta. Hanya deru mesin mobil dan alunan music yang tak berhenti sejak keberangaktan kecuali pada saat tanjakan berliku. Peserta terlelap tidur termasuk panitia yang dari awal mengatur perjalanan supaya tertib dan berjalan lancar.

Setelah beberapa saat kami istirahat di sebuah rumah makan daerah Brebes. Disini nampaknya ada sedikit insiden yang cukup menegangkan. Dimana penjual makanan dengan tegas mematok harga yang cukup tinggi dan tidak sewajarnya sehingga membuat peserta wisata protes. Padahal sebelam berangkat kita makan di tempat yang sama dan menu makanan yang sama dengan harga normal. Akhrinya, untuk mengatasi ketegangan yang semakin runcing. Ketua panitia Bapak H.Casmadin dengan tegas dan berwibawa menyelesaikannya dengan cara yang elegan dan masuk akal. Yang akhirnya semua menerima dengan lapang dada, terutama  menjadi pelajaran bagi pemilik warung.

Setelah beberapa saat, rombongan peserta wisata melanjutkan kembali perjalanan pulang. Beberapa peserta masih tertidur pulas. Namun sebagian ada yang bertanya-tanya, kita sudah sampai di mana?

Kelelahan peserta masih terlihat diraut wajah mereka. Namun terselip pula rasa bangga di matanya. Karena akhirnya dapat mengunjungi kota  wisata yang kental dengan sejarah. Kegiatan tour kali ini semoga menjadi kenangan yang tak kan terlupakan selamanya. Bahkan mungkin jadi cerita menarik di masa-masa nanti setelah kita memiliki anak cucu.

Minggu, 01 Maret 2020 jam 17.30 WIB, bus akhirnya merapat di depan kantor korwil kecamatan Palasah. Setelah berpamitan dengan panitia kami pun kembali ke rumah dengan membawa cerita masing-masing. (and)


MENGENAL POLA ASUH ANAK DI PESANTREN

 


MENGENAL POLA ASUH ANAK DI PESANTREN

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

Pada Sabtu, 04 Februari 2023 Seminar Parenting dengan tema, “Mengenal Pola Asuh Anak di Pesantren” bisa dilaksanakan dengan baik. Kegiatan ini berlangsung di Mesjid Pondok Pesantren Modern Ar-Rahmat Majalengka. Ummi Hj.Yeni Fitriyani, M.Pd.I. yang didaulat menjadi narasumber pada acara tersebut merupakan Pengasuh Ponpes Modern Ar Rahmat, Trainer dan Kepala Madrasah Aliah Unggulan Ar-Rahmat. Sekitar 65 peserta turut hadir diacara tersebut dan mereka merupakan wali santri yang putra-putrinya sudah dinyatakan diterima di SMP Ar Rahmat pada gelombang pertama.

Tujuan kegiatan ini ialah pertama, ajang silaturahim antara wali santri baru dengan Yayasan, Pengasuh dan jajaran asatidz agar terjalin keakraban dan keharmonisan. Kedua, pembekalan ilmu dan strategy mendidik anak sebelum masuk ke Pondok Pesantren. Ketiga, peyampaian materi tentang pola asuh di pesantren serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa, "Anak adalah investasi masa depan yang berharga dan tidak bisa dibeli oleh apapun." Anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Namun, pola menjaga dan merawat anak di zaman sekarang agak berbeda dengan zaman dulu. Pada tahun 70an anak-anak masih kental dengan permainan tradisional seperti, gatrik, dadaluan, paciwit-ciwit lutung, oray-orayan dan loncat tinggi. Dari permainan tersebut muncul nilai-nilai positif seperti simpati, empati, kebersamaan dan juga toleransi sehingga mereka mudah diarahkan oleh orang tua maupun ustad pengajian dilingkungan mereka. Namun, anak zaman sekarang yang lebih dikenal dengan kaum milenial, mereka lebih mengenal tekhnologi dan informasi. Setiap saat mereka akrab dengan dunia digital sehingga tidak heran apabila mereka mengenal Facebook, Instagram, Twitter, Teleghram, Tik tok, youtube lebih luasnya ke bentuk game seperti Free Fire, Mobile Legend, fortnite, Minecraft dan Flayer Unknown’s Battlegrounds (PUBG). Kondisi seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi sifat dan prilaku mereka. Maka munculah sifat individualis, kurang peduli dengan lingkungan sekitar, cepat puas dengan sesuatu yang didapat, terkadang sebagian anak emosinya tidak terkendali serta etika terhadap orang tua mulai luntur.

Para peneliti menyampaikan bahwa kemunculan kaum milenial ini lahir ditahun 1990-2000an dan mereka termasuk dari generasi baby boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai Echo Boomers karena ada ledakan tingkat kelahiran ditahun 1980-1990an (http//id.m.wikipedia.org). Mendidik kaum milenial tantangannya luar biasa. Selain kita harus bisa mengimbangi mereka dengan mempelajari tekhnologi, juga harus lebih bijak dalam memberikan arahan atau larangan kepada mereka.

Anak-anak usia SMP termasuk kaum milenial. Dan masa tersebut sering disebut masa peralihan dari masa anak-anak menuju remaja. Banyak perubahan yang dialami oleh anak tersebut mulai dari fisik hingga psikis. Dengan perubaan itu mereka membutuhkan bimbingan, arahan dan kasih sayang yang tepat. Karena jika salah dalam penanganan maka akan berakibat fatal untuk masa depan mereka. Oleh karena itu kekhawatiran orang tua yang memiliki anak diusia tersebut begitu tinggi, sehingga sejak dini mereka mencari lembaga pendidikan yang bisa menjamin masa depannya. Salah satu lembaga pendidikan terbaik saat ini dalam penanganan anak-anak adalah Pondok Pesantren. Karena dipesantren mereka akan dibimbing, diasuh, diarahkan, dibina 1 x 24 jam oleh para ustad dan ustadzanya. Selain itu pola asuh yang diterapkan dipesantren lebih lengkap, terncana dan disiplin.

Di pesantren, anak-anak tidak diizinkan membawa HP. Apabila ada kebutuhan yag mendesak untuk berkomunikasi bisa dibantu oleh ustad dan ustadzah atau wali hujroh istilahnya. Namun ada pengecualian bagi para santri yang sudah duduk di kelas 6, mereka diperbolehkan menggunakan HP atau Laptop dengan aturan dan pengawasan yang ketat. Penggunaannyapun hanya diwaktu-waktu tertentu yaitu dijam KBM sekolah. Untuk kelas 1-3 SMP pesantren menyediakan fasilitas laboratorium komputer yang sudah terasambung dengan jaringan internet. Sewaktu-waktu mereka bisa memanfaatkannya dengan bimbingan dan pengawasan kepala laboratorium. Hal ini dimaksudkan agar mereka tetap memiliki bekal teknologi yang cukup karena 20 tahun ke depan mereka akan hidup pada zamannya. Di pesantren juga selalu mengedepankan kasih sayang dan perhatian dengan tidak menghilangkan potensi yang dimiliki anak-anak.


         Berkaitan dengan pola asuh yang diterapkan di pesantren. Setidaknya ada sepuluh poin yang bisa menjadi gambaran bagi para orang tua agar menambah keyakinan dalam menitipkan putra-putrinya di pesantren. Pertama, Kemandirian (berdikari). Semenjak santri tinggal di pesantren sudah ditanamkan untuk mandiri, mulai dari menyiapkan pakaian, buku-buku, peralatan mandi, peralatan sholat, makan, minum dan kebutuhan yang lain. Kemandirian ini sangat penting untuk bekal mereka dikemudian hari. Memang untuk menanamkan dan membiasakan kemandirian membutuhkan proses yang panjang serta kesabaran yang tidak pernah putus. Hal ini sesuai dengan Panca Jiwa Pondok Pesantren : Keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian (berdikari), jiwa ukhuwah islamiah dan berfikiran bebas.

Kedua, kejujuran. Jujur laksana mata uang yang berlaku dimana-mana. Seseorang yang memiliki sifat jujur akan mulia dihadapan Allah SWT serta mendapat kepercayaan dari siapapun. Kejujuran sangat dijunjung tinggi di pesantren. Jujur dalam ucapan maupun dalam perbuatan. Seperti seorang santri yang kehabisan uang jajan, kemudian meminta kepada orang tua dengan jumlah yang semestinya tidak boleh dilebihkan. Kecuali apabila ada uang lebih dari saudara-saudaranya sebagai bentuk sayang dan bisa dititipkan kepada ustad dan ustdazah pembimbing. Kemudian, seorang santri juga diajarkan untuk tidak meminta apapun kepada teman kecuali dikasih, karena meminta dikhawatirkan akan tumbuh menjadi orang yang peminta-minta. Bahkan yang dianjurkan adalah memberi sekalipun hanya sedikit. Hal ini sesuai dengan hadist nabi : “Al yaddul ‘ulya khoirum minal yaddi sufla”. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. (HR. Muslim).

Ketiga, tanggung jawab. Tanggung jawab adalah salah satu sifat mahmudah yang harus dimiliki oleh para santri. Tanggung jawab adalah melaksanakan kewajiban dengan penuh rasa peduli dan loyalitas yang tinggi tuntas dan berkualitas. Tanggung jawab menjadikan seorang pemimpin menjadi kuat. Orang yang memiliki sifat ini adalah calon pemimpin besar. Serorang santri yang bertanggung jawab tidak takut dengan resiko yang akan ia temui. Orangnya teguh, jiwanya tak mudah goyah, meskipun beban berat ada dipundaknya. Ia tetap berdiri dan memikulnya ia kuat dan bijaksana. Seorang santri yang bertanggung jawab memiliki pribadi yang mengesankan.

Tanggung jawab sebagai anak untuk belajar di pesantren, harus betul-betul dijaga dengan baik. Tanggung jawab sebagai santri yang akan mendapatkan bimbingan dan arahan dari para ustad juga harus dijalankan dengan baik. Bahkan termasuk tanggung jawab apabila melanggar tata tertib yang berlaku di pesantren juga harus diikuti dengan penuh keikhlasan. Santri harus mengakui kesalahan dan memperbaiki sikapnya dengan elegan. Seperti terlambat sholat berjamaah, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan PR dan sebagainya. Maka santri harus siap menerima konsekuensinya. Tentu sanksinya yang mendidik dan bermanfaat untuk masa depannya seperti menghafal al Quran atau al Hadist.

Keempat, hidup bersama. Para santri yang tinggal di pesantren akan bertemu dengan teman-temanya yang beragam karakter. Ada yang memiliki sifat pemalu, agresif, manja, penakut, supel, mudah tersinggung serta berbagai karakter lain. Namun mereka harus bisa hidup rukun dan saling menghargai dalam berbagai hal. Semisal apabila ada diantara mereka yang sakit, maka teman yang lain harus segera memberikan bantuan dan perhatian kepada teman yang sakit tersebut. Dengan kata lain harus saling membantu dan meringankan beban orang lain karena kita adalah saudara. Seperti dalam Al-Quran Allah SWT berfirman : Innamal mu’minuna ikhwatun. Artinya : “Sesungguhnya  seorang mu’min dengan mu’min yang lain adalah saudara.” (Q.S. Al Hujurot : 10)                  

Kelima, ikhlas. Kata ikhlas mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan. Membutuhkan latihan dan kelapangan dada. Termasuk bagi orang tua yang menitipkan putra-putrinya di pesantren. Ikhlas dalam melepasnya akan mempengaruhi psikologis anak untuk kerasan tinggal di pesantren. Orang tua sebaiknya menghindari pertanyaan yang membuat anak bingung. Misalnya, di pesantren itu enak tidak?, di pesantren itu menu makanannya bergizi atau tidak?, di pesantren itu teman-temannya perhatian atau tidak?. Memang kalau dibandingkan dengan di rumah, di pesantren tidak akan senyaman di rumah. Mungkin saja di rumah serba ada, serba boleh juga dengan aturan yang sulit diterapkan. Namun di pesantren sudah diprogramkan dengan tertib dan disiplin. Orang tua cukup memberikan motivasi kepada putra-putrinya untuk kuat tinggal dan belajar di pesantren agar dikemudian hari bisa mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan.

Ikhlaspun bisa dengan cara menurunkan ego. Misalnya, anaknya kehilangan sendal padahal baru saja dibelikan. Kalau menuruti emosi kita akan mengatakan, “Ko sendal bisa hilang? bukankah di pesantren diajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain?.” Dalam hal ini sebaiknya kita mengatakan, “Semoga dengan hilangnya sendal bisa menjadi ladang pahala dan sendalnya bermanfaat.” Selanjutnya orang tua memberikan motivasi kepada anak-anak untuk lebih hati-hati lagi.

Keenam, tawakkal. Menitipkan putra-putrinya di pesantren adalah suatu pilihan. Dimana pilihan itu membutuhkan pengorbanan. Tentu sebelum memutuskan untuk menitipkan putra-putrinya sudah melalui berbagai upaya agar putra-putrinya kerasan di pesantren serta sukses dikemudian hari. Maka tawakkallah menjadi benteng kokoh agar jiwa menjadi tentram.  Serahkan semuanya kepada Allah SWT.

Ada sebuah kisah nyata yang menggugah jiwa. Suatu hari ada salah satu santri yang belum bisa melunasi pembayaran, sementara jatuh tempo tinggal sebentar lagi. Kebetulan keuangan sedang sulit dan usaha sedang tidak baik. Sudah berusaha mencari pinjaman belum juga menemui titik terang. Suatu saat orang tua santri tersebut bertemu dengan teman lamanya yang sudah lama tidak bertemu. Kebetulan beliau sedang mencari pegawai untuk perusahaannya. Setelah berbincang-bincang, orang tua santri itu menerima tawaran temannya dan diberikan uang muka dari gajih yang akan didapatkan sebulan kedepan. Qodarullah  jumlah uang muka tersebut cukup besar dan bisa melunasi biaya administrasi ke pondok pesantren bahkan berlebih. Allahu Akbar. Itulah buah dari tawakkal kepada Allah SWT.

Ketujuh, ikhtiar dan doa. Doa itu mukhul ibadah, doa adalah kekuatan. Ia sebagai umpan untuk mengail pertologan Allah SWT.  Doa adalah harapan suci yang bersumber dari kelemahan. Doa adalah cinta kepada Allah SWT. Orang tua yang menitipkan putra-putrinya di pesantren tentu tidak lepas dengan iringan doa. Setiap saat dan kesempatan selalu mendoakan untuk kebaikan putra-putrinya. Pemateripun memberikan bekal kepada orang tua agar mendawamkan membaca surat al fatihah 41 kali dan diperkuat dengan Iyyakana’budu waiyyakanstain 11 kali setelah shalat maghrib. Kemudian berdoa dengan kalimat dibawah ini : “Ya Allah kami titipkan putra-putri kami di pesantren. Sholehkan dan cerdaskan mereka !. Kami pasrahkan semuanya kepada-Mu”.

Rasulullah SAW bersabda :”Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa kepada Allah SWT selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi antara kerabat, melainkan Allah akan beri kepadanya tiga hal : 1. Allah akan segera mengabulkan doanya. 2. Allah akan menyimpan baginya di akhirat kelak, dan 3. Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Kemudian para sahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi pun bersabda, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.”(HR. Ahmad no.10709)

 Pada saat orang tua mendoakan putra-putrinya, begitupun sebaliknya putra-putrinya akan selalu mendoakan disetiap ba’da shalat yang di pimpin oleh asatidz bahkan pengasuh secara terprogram. Dan ini menjadi kekuatan yang teramat dahsyat.

Kedelapan, dana. Dalam sebuah mafhudhot dikatakan bahwa salah satu syarat mendapatkan ilmu adalah dirhamun (dana). Keberlangsungan pendidikan dimanapun tentu harus ditopang dengan dana yang cukup sekalipun untuk mencari dana tidaklah mudah, namun yakinlah bahwa Allah SWT akan memudahkan setiap hajjat manusia terlebih untuk pendidikan selama kita berusaha maksimal. Dalam Al Quran Allah berfirman : Intansurullaha yansurkum. “Jika engkau menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu.” (Q.S Muhammad :7). Orang tua akan mengalami keajaiban-keajaiban yang datang tidak disangka-sangka. Dalam bahasa Al-Quran “Min haitsu laayahtasib.” Namun yang perlu diperhatikan ketika mencari dana ialah dengan cara yang halal dan baik, karena itu akan mempengaruhi terhadap anak-anak di pesantren.

Kesembilan, saling percaya. Salah satu pondasi terkuat dalam sebuah ikatan kerjasama apapun adalah saling percaya. Begitupun dengan menitipkan putra-putrinya di pesantren. Tanpa saling percaya, akan timbul berbagai problematika dan akan mempengaruhi berlangsunya suatu lembaga. Anak-anak juga selalu diberikan nasihat oleh para ustad agar selalu menumbuhkan rasa saling percaya antar teman. Bahkan dengan amanah yang dibebankan kepada anak-anak berupa aktif diorganisai merupakan media untuk saling percaya.

Kesepuluh hijrah. Hijrah artinya pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Begitupun sorang santri yang pindah dari rumah ke Pondok Pesantren. Selain pindah secara fisik tentu yang lebih penting secara psikis, ruh, kebiasaan dan hatinya. Di pesantren tidak diperkenankan menggunakan bahasa daerah, di pesantren tidak diperkenankan memakai celana leging atau levis, di pesantren tidak diperkenankan berkomunikasi dengan lawan jenis dan berbagai aturan yang mengikat. Hal ini dimaksudkan untuk melatih mereka agar dikemudian hari nilai-nilai kepesantrenannya melekat. Hijrah juga berarti berpindahnya dari yang tidak tau menjadi paham, dari yang berantakan menjadi lebih elegan dan dari yang tadinya kumal dan kusam menjadi menawan dengan ilmu dan pengetahuan.

Itulah sepuluh nilai-nilai pendidikan sebagai pola asuh di pesantren yang selalu ditanamkan kepada para santri dengan landasan al-Quran dan al Hadits. Dengan nilai-nilai tersebut seorang santri diharapkan menjadi manusia yang berguna. Karena mereka adalah harapan orang tua juga tulang punggung majunya negara Indonesia. (and)


Kamis, 02 Februari 2023

ENGKAULAN RATU LEBAH DIHATIKU

 


 ENGKAULAN RATU LEBAH DIHATIKU

Karya : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

“SAH”

Duaaaaar.......

Jantung berdegup kencang, hati bergetar tak karuan, lidah kelu tak bisa berucap, keringat dingin mengalir tak bisa ditahan, fikiran melayang dan rasa bahagia begitu membuncah. Bahkan tidak terasa bulir-bulir air mata menetes perlahan diiringi dengan ungkapan syukur dilubuk hati. Sungguh terharu dan tidak percaya karena bisa sampai dititik ini setelah melewati rintangan yang begitu terjal.

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَجْوِيْزَهَا بِمَهْرِ ذَالِكْ  Kalimat itulah yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Suatu kalimat sakral yang menjadikan hubungan suami istri menjadi halal dengan landasan mengikuti sunnah rasul. Pada saat itu rasa tegang, gugup, khawatir, takut, malu lenyap tak berbekas. Tergantikan dengan rasa bahagia yang tak terhingga dan rasa haru yang tidak menentu.

Pada saat ijab qobul saya sengaja menggunakan Bahasa Arab dengan pertimbangan supaya lebih simple. Apalagi latar belakang kami yang berbeda yakni keluarga saya berasal dari sunda dan tidak paham dengan bahasa jawa sebaliknya keluarga istri berasal dari Jawa dan tidak paham dengan bahasa sunda. Seandainya menggunakan salah satu bahasa daerah tentu akan kesulitan bagi salah satu pihak. 

Perjalanan menuju ijab qobul  begitu terjal dan berliku. Rasa perih menyayat hati serta gelombang tekanan yang begitu dahsyat sungguh mengerikan. Bukan dari orang lain, bukan pula dari sahabat karib namun dari saudara sendiri yang tidak mengizinkan saya untuk segera menikah. Dengan alasan bahwa saya belum mendapatkan pekerjaan yang layak menurut ukuran mereka. Saat itu saya hanyalah seorang guru honorer di salah satu lembaga pendidikan di Majalengka. Memang tidak bisa dipungkiri seandainya hanya melihat dari satu sisi yaitu penghasilan satu bulan hanya Rp. 250rb. Untuk makan tiga kali saja rasanya belum tentu cukup. Apalagi belum punya rumah untuk ditempati setelah menikah nanti. Saat itu saya masih tinggal di sudut Mesjid lantai dua bersama beberapa kawan. Wajar kalau perang bathin begitu terasa, namun dorongan untuk segera menikah begitu kuat untuk menghidari fitnah dari orang lain. Akhirnya saya memohon petunjuk kepada Allah SWT serta meminta saran dari beberapa kiyai agar mendapat pencerahan. Dan qodarullah ternyata Allah SWT membukakan jalan yang tidak disangka-sangka.

Masih teringat seandainya saya menyerah pada saat itu, mungkin tidak akan mendapatkan bidadari pujaan hati. Perjalanan itulah yang membuat saya tegar dan bertekad untuk mencintainya sepenuh jiwa, menyayanginya dengan penuh kesadaran, tidak akan meninggalkanya walaupun cobaan dan rintangan menghadang. Ingin selalu bersamanya, ingin menjaganya, ingin saling melengkapi disetiap celah kekurangannya. Bahkan lebih jauhnya ingin bersama-sama sampai ke syurganya Allah SWT.

Awal perkenalan dengan istri saya cukup unik dan menarik mungkin tidak jarang yang melakukannya. Pada saat itu saya bertekad untuk memiliki istri shalihah dengan dasar agama yang kuat. Dalam benak saya para santriwati yang belajar di Darut Tauhid pimpinan Aagym mereka memiliki pemahaman agama yang kuat serta termasuk kriteria akhwat yang sholehah.

 Dengan keyakinan inilah saya mencari beberapa nama melalui brosur kegiatan yang dilakukan oleh pesantren tersebut. Kebetulan di kampus IAIN Fakultas Tarbiyah terpampang satu brosur kegiatan pesantren kilat yang diadakan oleh panitia. Dengan spontan saya catat nomor HP yang tertera dibrosur tersebut kemudian saya hubungi melaui sms karena belum ada WA pada saat itu. Keberanian inilah yang masih terngiang-ngiang dan terkadang heran kepada diri sendiri. “Ko’ bisa ya saya melakukan itu dengan tanpa rasa malu, takut dan ragu”.  

Itulah permulaan perkenalan dengannya tanpa bertatap muka. Hanya terlintas sedikit bagaimana sosok akhwat yang menjadi idaman hati saya. Kesan pertama yang saya rasakan yakni dia orangnya baik, ramah sekalipun agak jutek. Berhubung kita sama-sama menempuh pendidikan Bahasa Arab maka komunikasipun sering menggunakan Bahasa Arab dan mungkin ini juga yang cukup unik diantara yang lain. Kalimat shobahul khoir, kaifa haaluk, madza taf’alina alaan adalah beberapa kalimat yang sering kami gunakan dalam percakapan.

Istriku tercinta....

Dilubuk hati yang paling dalam, kutambatkan rasa ini pada sang kholiq pencipta kesempurnaan. Saya bersyukur kepada pemilik segala kenikmatan atas segala anugerah yang telah engkau berikan kepada saya. Tak pernah meleset janji Allah SWT akan sebuah kebenaran bahwa akan dipertemukan orang baik dengan yang baik, orang sholehah dengan orang sholeh. Sekalipun saya menyadari bahwa untuk menjadi orang sholeh masih jauh dari kriteria tersebut. Namun Allah SWT menganugerahkan kepada saya pendamping hidup yang sangat sempurna dimata saya.

Istriku tercinta, engkau begitu sempurna. bukan hanya karena rupamu yang rupawan sehingga sedap dipandang namun jauh dari itu kedalaman imanmu yang tak goyah oleh zaman dan gemerlapnya dunia yang menakjubkan. Kesederhanaamu dalam sikap dan tutur kata menguatkanku untuk selalu setia padamu. Kesabaranmu yang begitu besar menjadikanku kuat dalam menapaki perjuangan hidup. Wahai istriku engkau laksana lebah yang mengakjubkan, berlimpah manfaat untuk orang sekitar. Engkau tercipta untuk sang pangeran yang lemah dan berlumur dosa. Engkau mampu menjaga diri dari godaan nafsu syaitan.

Wahai istriku yang penuh dengan pesona keindahan. Disetiap helaan nafas, kupanjatkan doa terbaik kepada-Nya agar engkau selalu dijaga dari segala marabahaya. Disetiap sujud terakhir, kupanjatkan doa kepada-Nya agar engkau selalu dianugrahi kemulyaan.  Disetiap langkah, ku panjatkan doa kepada-Nya agar engkau tetap dalam samudra cinta dan kerinduan. Hidup ini tak berarti tatkala jauh darimu, raga ini tak bergerak tatkala kau meninggalkanku. Jiwa ini hampa tanpa hadirmu disisku.

Wahai istriku. Mari kita bergandengan tangan dalam menaklukan samudra kehidupan. Tantangan dan rintangan yang selalu datang akan sirna tatkala kita bersama. Jadikan suka dan duka sebagai bumbu kehidupan yang akan menjadi cerita indah. (*) 


 

BIODATA PENULIS

 

Nama                             : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

Tempat Tanggal Lahir   : Majalengka, 19 September 1984

Pendidikan                    : TK Lampuyang (1991), SDN Margamukti 1 (1997), MTs Siti Khodijah Buah kapas (2000), MADU PUI Majalengka (2003), IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (2008) pada Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

 

Pengalaman Kerja:

Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Ar-Rahmat (2009-2013), guru SD Islam Ar-Rahmat (2009-2017), Guru Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Huda (2018-2019), Kepala Sekolah SD Islam Ar-Rahmat (2017 - 2019), Kepala Sekolah SMP Ar-Rahmat (2020 s.d sekarang).

Pengalaman Kepenulisan:

Penulis memiliki hobi menulis dan membaca.  Beberapa kegiatan yang diikuti penulis diantaranya pelatihan membuat puisi, cerpen, artikel, opini, esai dan pantun. Buku antologi pun terbit hasil dari pelatihan. Seperti pantun 1000 Guru Asean 2019, Puisi Akrostik KPPJ Jawa Barat 2019, Puisi Religi KPPJ Jawa Barat 2019, Puisi rindu RFM Pramedia 2020, antologi cerpen suara hati PGRI Majalengka, antologi PUISI AGP PGRI Majalengka, antologi artikel pada lomba menulis artikel ilmiah populer HUT PGRI ke-75 dan Hari  Guru Tahun 2020, antologi artikel Majalengka Wajahmu Kini (Bunga Rampai Guru Bicara Tentang Majalengka), antologi artikel Transformasi Media Belajar Pada Masa Pandemi, juga sedang menyelesaikan buku solo Kiat Praktis Menulis Artikel bersama kang Encon Rahman. Selain itu beberapa artikel sudah dimuat di Majalah AKSIOMA, SIGAP dan Majalah Geliat Gemilang Jawa Barat.

Pengalaman Organisasi:

·          Ketua HIMA PUI Bandung

·          Pengurus HIMABA IAIN Sunan Gunung Djati Bandung

·          Pengurus Pemuda PUI kota Bandung

·          Pendiri HIMA PUI IAIN Syekh Nurjati Cirebon

·          Ketua ATC (Ar-Rahmat Training Centre) Ponpes Modern Ar-Rahmat

·          Pengurus GLN Kabupaten Majalengka

Alamat Rumah                      : Blok Demang Rt 02/Rw 02 Desa Weragati Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka 45475.

Telp/HP.                                 :  08980051366

E-mail                                     : andprop16@gmail.com/andprop16@yahoo.com

MARHABAN YA RAMADHAN

  MARHABAN YA RAMADHAN Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I Waktu terus berjalan seiring dengan perputaran bumi pada matahari. Hari ter...