Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I
Julukan Majalengka
Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar Majalengka? kota angin. Pendapat ini bisa benar, karena memang di Majalengka anginnya cukup kencang terutama di musim kemarau. Tidak sedikit pepohonan yang tumbang akibat kencangnya angin tersebut. Kondisi ini dipengaruhi oleh letak geografi Majalengka yang berada dikaki Gunung Ciremai, sehingga hembusan anginnya begitu kencang. Dan jika angin sudah berhembus dengan kencangnya udara disekitarnya terasa panas. Kadipaten, Dawuan, Burujul, Jatiwangi merupakan daerah yang sangat panas ditambah dengan berdirinya pabrik-pabrik tekstil, makanan dan minuman di wilayah tersebut.
Kota layak anak. Pendapat inipun bisa jadi iya, karena Kabupaten Majalengka pernah meraih penghargaan sebagai salah satu kabupaten layak anak dari Kementrian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia di tahun 2019. Walaupun masih banyak yang perlu dibenahi sehingga muncul protes dari ketua LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) yang mempertanyakan penghargaan tersebut. Beliau menilai bahwa penghargaan tersebut hanya dilihat dari segi fasilitas umum yang dimiliki oleh pemda Majalengka. Sedangkan untuk pencegahan dan penanganan kasus kekerasan pada anak tidak menjadi indikator penilaian tertentu. Terbukti dengan masih banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan pelechan. Pada tahun 2019 saja terdapat 30 kasus kekerasan pada anak-anak di Kabupaten Majalengka. Tentu hal ini menjadi bahan masukan bagi pemda Majalengka supaya lebih intensif lagi terhadap perlindungan anak-anak. Sehingga predikat ‘Kota Layak Anak’ Kabupaten Majalengka bukan sekadar formalitas tetapi sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini Bupati Majalengka Karna Sobahi menegaskan bahwa “Penilaian sebuah penghargaan itu secara komprehensif, tidak hanya dari sebuah kasus. Adapun kekurangannya mari kita benahi bersama karena ini menjadi kewajiban kita semua”. Tegasnya.
Kota kecap. Julukan ini sangat melekat bagi Kabupaten Majalengka terutama pada tahun 70an sampai awal 1990-an karena pada waktu itu ratusan pabrik kecap bertebaran hingga pelosok Majalengka. Beberapa merk kecap diantaranya Maja Menjangan, Ban Bersayap, Segitiga dan Ayam Jago sudah sangat familiar di masyarakat. Tapi masa itu sudah berlalu. Menurut data Dinas Koperasi dan UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Majalengka tahun 2013 pabrik kecap hanya tinggal 35 pabrik yang masih aktif. Hal ini dipicu oleh masifnya serbuan kecap-kecap produksi pabrik-pabrik besar sehingga pabrik kecap Majalengka kalah bersaing.
Terlepas dari itu, Pemda Majalengka tentu sangat berterimakasih kepada para perintis, pendiri dan penerus kecap Majalengka sebagai sebuah sejarah yang patut diapresiasi. Maka dibangunlah tugu kecap yang berdiri kokoh di sekitar pertigaan desa Tonjong. Icon ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar untuk berkunjung ke Kabupaten Majalengka.
Kota sepi. Walaupun kedengarannya negatif, Majalengka sempat mengalami kondisi seperti itu. Sepi pembangunan, sepi kegiatan perekonomian, sepi pengunjung wisata bahkan sepi prestasi. Keadaan ini menyulitkan orang lain menemukan Majalengka terlebih tidak ada icon yang menjadi ciri khas Majalengka. Pendapat ini diperkuat dengan kejadian yang pernah dialami penulis pada saat mengikuti lomba pidato di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, 07 Februari 2020. Seorang warga Bekasi menanyakan dimana letak Majalengka dan apa saja sumber daya alam yang dimilikinya.
Julukan Majalengka sebagai kota sepi juga sangat terasa ketika menjelang malam hari. sekitar pukul 21.00 Wib. Lalu lalang masyarakat disekitar alun-alun Majalengka sulit ditemukan. Mereka lebih memilih tinggal di rumah daripada di luar rumah. Namun itu cerita lama, karena akhir-akhir ini Majalengka sudah menggeliat menunjukkan eksistensinya. Sejak tampuk kepemimpinan dipegang oleh bapak Sutrisno dan Karna Sobahi sebagai wakilnya selama dua periode Majalengka mulai berbenah. Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) sebagai bukti awal perubahan Majalengka. Dan ini menjadi angin segar bagi semua kalangan karena dengan berdirinya BIJB mampu menyedot perhatian masyarakat luar Majalengka. Bahkan puncak perubahan itu terjadi pada masa pemerintahan Karna Sobahi dan wakilnya bapak Tarsono. Pembangungan insfratuktur begitu masif, icon-icon Majalengka mulai digarap sebagai jatidiri Majalengka dengan mengusung visi Majalengka raharja. Maka tak heran apabila Majalengka hari ini menjadi salah satu kabupaten yang diperhitungkan di provinsi Jawa barat dengan potensi yang dimilikinya.
Kota wisata. Nah ini mungkin yang menjadi pembeda dengan kabupaten dan kota lain di Jawa Barat. Potensi wisata di Majalengka begitu melimpah dam beraneka ragam. Sekitar 45 destinasi wisata Majalengka yang belum dikelola secara serius oleh pemda Majalengka maupun pihak swasta. Padahal jika dikelola dengan baik dan profesional akan mengangkat nama kabupaten Majalengka dibidang pariwisata.
Pemda Majalengka kemudian menganalisis dan mendata potensi yang harus segera dikembangkan. Kordinasipun dilakukan dengan pemprov Jawa Barat. Alhasil, penggarapan destinasi pariwisata Majalengka dimulai secara serius dengan bantuan anggaran APBD daerah dan provinsi. Bahkan kang emil sapaan gubernur Jawa barat beberapa kali berkunjung ke Majalengka untuk mensupport pembanguan destinasi pariwisata agar menjadi tarap nasional. Beliau juga sempat sempat mengatakan bahwa Majalengka adalah kota mutiara yang tersembunyi.
Kota agamis. Dengan jumlah mayoritas masyarakat Majalengka beragama islam menjadi modal dasar julukan itu hadir. Kota agamis adalah kota yang ditunjang dengan sarana prasarana yang memadai serta masyarakatnya mampu mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dan gelar kota agamis menjadi harapan bapak bupati Majalengka agar kehidupan masyarakat Majalengka seimbang antara dunia dan akhirat. Tidak heran jika visi kabupaten Majalengka mengarah kepada hal itu. Religius adalah cita-cita tertinggi masyarakat kabupaten Majalengka.
Untuk mewujudkan visi tersebut. Karna Sobahi memprioritaskan program kerjanya yaitu pemberian insentif guru ngaji, perbaikan sarana dan prasarana keagamaan, pembinaan kepada para pemuda dan tokoh masyarakat, melakukan kordinasi dan silaturahim kepada para kiyai serta memberikan reward bagi masyarakat yang berprestasi.
Keseimbangan pembangunan fisik dan non fisik
Majalengka adalah salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki luas wilayah yang cukup besar yakni 1.204,24 kilometer persegi. Kabupaten ini memiliki panorama alam yang indah dan menawan. Hamparan padi yang menguning menambah keindahan tak terhingga. Destinasi pariwisata terus dibenahi sehingga mengundang para wisatawan lokal maupun interlokal untuk menjajal keindahan Majalengka. Pembuatan bola dunia di daerah munjul menjadi icon tersendiri kabupaten Majalengka dan sempat viral pada awal pembangunannya. Sementara di sebelah utaranya terdapat taman dirgantara yang mengabarkan bahwa di Majalengka terdapat Bandara Internasional Jawa barat. Taman-taman lainnya berderat rapih sepanjang jalan jantung kota Majalengka dengan lampu khias yang khas memanjakan masyarakat Majalengka. Dan renovasi mesjid agung Al Imam dilakukan secara total dengan konsep timur tengah ingin menegaskan Majalengka sebagai kabupaten agamis.
Pembangunan seperti ini ternyata berdampak kepada menggeliatnya perekonomian masyarakat. Pasar modern bergmunculan dan selalu penuh sesak oleh pengunjung. Seperti Jogja, Surya, UD. Begitu juga dengan Toko elektronik, kerajinan home industri serta kuliner khas Majalengka mebludak laksana jamur di musim penghujan.
Pemda Majalengka telah berhasil mengubah wajah Majalengka menjadi primadona. Pembangunan ini tentu akan berdampak kepada prilaku masyarakat. Sehingga pembanguan mental spiritual masyarakat juga harus seimbang. Beruntung Majalengka memiliki lembaga pendidikan formal maupun non formal bahkan puluhan pondok pesantren tersebar di wilayah Majalengka. Lembaga ini menjadi benteng kokoh dalam menjaga akhlak dan moral masyarakat.
Selain itu masyarakat patut berbangga karena memiliki tokoh nasional yang berkontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah seorang ulama yang kharismatik yakni KH Abdul Halim. Beliau asli orang Majalengka yang telah mendirikan organisai PUI Persatuan Ummat Islam sebagai wadah perjuangannya.
Dengan seimbangnya pembanguna fisik dan non fisik, kehidupan masyarakat Majalengka sangat kondusif. Indikoatornya ialah kerukunan dan toleransi sangat terasa di wilayah Majalengka terutama di daerah-daerah. Jikapun ada permasalahan atau isu-isu yang meresahkan mampu diselesaikan secara kekeluargaan secara arif dan bijaksana oleh pemerintah setempat atau tokohnya seperti yang pernah terjadi di daerah maja.
Ini menjadi bukti bahwa pemerintah kabupaten majalengka telah berhasil menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan non fisik sehingga menjadikan masyarakat majalengka sejahatera. Hal ini selaras dengan visi majalengka yaitu RAHARJA.
Toleransi menjadi prioritas
Akhir-akhir ini sedang viral isu intoleransi. Hal ini dipicu an oleh banyak faktor. Salah satunya adalah pemahaman yang dangkal terhadap nilai-nilai keagamaan. Padahal kerukunan, tasamuh, saling menolong adalah bagian dari ajaran islam yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun kenyataanya masih banyak yang merasa benar sendiri, saling klaim, saling hujat bahkan sampai menyalahkan orang lain. Jika dibiarkan akan timbul perpecahan dan ketidakharmonisan.
Masyarakat Majalengka harus mampu mengedepankan rasa toleransi yang tinggi, menahan diri setiap ada permasalahan dan tentu menyelesaikannya secara arif dan bijaksana. Membantu saudara-saudara yang membutuhkan seperti korban banjir, longsor, gempa bumi bahkan korban peperangan seperti yang terjadi di Palestina adalah wujud dari saling membantu. Selain itu, menghormati dan menghargai ibadah dan kepercayaan agama lain juga merupakan bagian dari toleransi.
(Artikel ini telah dimuat di buku antologi Asosiasi Guru Penulis (AGP) Majalengka)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar