Senin, 14 Februari 2022

MILENIAL CERDAS DAN BERKELAS BERSAMA PERPUSTAKAAN

 

 

MILENIAL CERDAS DAN BERKELAS BERSAMA PERPUSTAKAAN

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

 

Rasa syukur tak terhingga kepada Allah SWT karena wabah Covid-19 sudah semakin reda. Tidak hanya di Indonesia namun juga dunia secara umum. Kondisi ini tidak lepas dari upaya secara konsisten semua elemen masyarakat dan pemerintah. Upaya itu berupa pemberlakuan kebijakan yang bisa menekan penyebaran virus Covid-19. Seperti pemberlakuan PPKM  level 1, 2, 3 dan seterunya. Selain itu pelaksanaan vaksinasi begitu masif dilakukan disemua jenjang mulai dari anak-anak usia 6 – 12 Tahun, dewasa hingga orang tua.

Dampak positif dari melandainya penyebaran Covid-19 sangat terasa. Tidak hanya di bidang ekonomi, sosial, budaya. Namun juga pendidikan yang selama ini terpenjara dengan berbagai kebijakan yang sangat menghawatirkan. Selama Covid-19 menyebar, kegiatan belajar mengajar hanya bisa dilakukan secara daring yang tentu sangat berdampak terhadap kualitas pembelajaran anak-anak disamping perubahan akhlaq yang sangat berbeda ketika KBM tatap muka.

Di awal bulan Januari kegiatan KBM tatap muka secara full sudah mulai berlaku di berbagai daerah walaupun belum sepenuhnya. Anak-anak, orang tua dan juga dewan guru begitu antusias menyambut kebijakan tersebut. Hal ini menjadi angin segar buat mereka yang betul-betul kangen dengan sekolah. Kegiatan belajar mengajar ini tentu dapat dimanfaatkan sebaik-baikya oleh dewan guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan, mengembangkan keterampilan dan juga membina akhlakul karimah.

Selang beberapa hari ketika para siswa sudah mulai masuk sekolah terhembus kabar yang kurang sedap tentang penyebaran virus Covid-19 gelombang ke-3 yang akan terjadi di Indonesia. Virus itu bernama omicron yang konon katanya penyebarannya lebih cepat 5 kali dari virus jenis delta. Namun pemerintah menghimbau untuk tidak panik menghadapi virus ini karena pelaksanaan vaksin secara masif terus dilakukan.

Saat ini, KBM terus berjalan dengan penerapan prokes yang ketat. Berbagai sarana pembelajaran begitu melimpah dan bisa dimanfaatkan oleh para siswa. Misalnya perpustakaan sebagai tempat yang efektif dan efisien dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Perpustakaan Sekolah, perpustakaan Desa, perpustakaan Daerah, perpustakaan Provinsi maupun perpustakaan Nasional. Selain perpustakaan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) juga tersebar di beberapa Desa. Bahkan sekarang sudah ada perpustakaan digital yang mampu diakses oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Berbicara tentang perpustakaan. Menurut Prof.Yoyon :”Perpustakaan itu harus seperti air yang mengalir. Sifat air adalah  menyebar menembus pori-pori tanah, menuju ke segala arah dan menumbuhkan berbagai macam tanaman sehingga memberikan manfaat yang lebih besa buat lingkungan sekitar”.  Begitupun perpustakaan harus seperti air sebagai sumber kehidupan. Dengan perpustakaan orang bisa memanfaatkannya untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya menuju peradaban yang lebih maju. Hal ini wajar karena perpustakaan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang jika dimanfaatkan dengan baik akan membentuk manusia cerdas kreatif  dan berakhlakul karimah.

Namun tidak dapat dipungkiri. Saat ini perpustakaan menjadi barang langka yang jarang dilirik oleh kebanyakan orang. Dengan berbagai alasan dan pandangan tentunya. Berkunjung ke perpustakaan sangat membosankan, berkunjung ke perpustakaan hanya menghabiskan waktu, bahkan sebagian beranggapan berkunjung ke perpustakaan tidak ekonomis.

Masyarakat pada umumnya lebih memilih berkunjung ke tempat–tempat rekreasi sekalipun menyita waktu dan merogoh kocek yang tidak sedikit. Mereka merasakan kesenangan dan kepuasan walaupun hanya sesaat. Mengapa hal ini terjadi? Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya pola fikir masyarakat yang konsumtif dan serba instan. Mereka menginginkan sesuatu yang mudah dan cepat. Sementara berkunjung ke perpustakaan untuk sekadar membaca belum tentu terlihat dampaknya. Di samping itu, kebanyakan perpustakaan belum mampu menghadirkan suasana yang menarik, inovatif dan rekreatif. Padahal ini sangat penting sebagai daya tarik.

Perpustakaan yang menarik tentu bisa dinilai dari sisi tempat, akses jalan yang mudah ditempuh, promosi kegiatan berupa iklan yang padat dan penuh makna, penataan buku sesuai dengan segmennya sehingga memudahkan pengunjung, pelayanan petugas perpustakaan yang ramah dan sabar. Selain itu tidaklah berlebihan jika dilingkungan perpustakaan terdapat spot-spot selfi agar mereka bisa selfi sebelum membaca buku ataupun selesai membuat ringkasan dari buku yang mereka baca.

Inovatif, tentu dengan berbagai program unggulan yang memberikan warna baru terhadap peningkatan kualitas SDM seperti pelatihan, seminar maupun workshop tentang kepenulisan, pembuatan video, iklan dengan memaksimalkan media sosial. Perpustakaan juga harus memiliki ciri khas yang membedakan dengan perpustakaan lain.

Rekreatif. Perpustakaan sebaiknya menghadirkan suasana yang nyaman dan aman sehingga ketika orang datang ke perpustakaan tidak merasa bosan. Ada saja hal baru yang mereka dapatkan dan membuat rindu jika tidak pergi ke perpustakaan.

Terlebih bagi Generasi milenial yang identik dengan karakter terbuka, percaya diri, optimis, menyukai hal-hal baru, mampu mengekspresikan perasaannya, walaupun terkesan hura-hura. Namun, mereka melek teknologi, mahir mengoperasikan perangkat gadget seperti laptop, tablet, handphone dengan jaringan internet. Mereka sudah terbiasa memegang benda ajaib tersebut kemanapun mereka beraktifitas.

Potensi inilah yang bisa dimaksimalkan agar mereka para generasi milenial lebih sering datang ke perpustakaan untuk membaca, menelaah, menulis maupun menciptakan karya-karya yang berkualitas juga bermanfaat. Apalagi jika sudah ada perpustakaan digital. Dengan keahlian yang mereka miliki serta karakter yang serba ingin tau maka dipastikan kemajuan tidak bisa dihindarkan.

Namun, masih banyak yang tidak mengetahui tentang generasi milenial ini. Jika ditilik dari sejarah tentang generasi milenial. Mereka adalah  Generasi yang dikenal sebagai generasi Y adalah kelompok demografi setelah generasi X. Para ahli dan peneliti menggunakan awal tahun 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial pada umumnya adalah anak-anak generasi baby boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai echo Boomers karena adanya ledakan tingkat kelahiran di tahun 1980-an dan 1990-an. (http//id.m.wikipedia.org).

Begitu melimpahnya generasi milenial yang bisa mengubah peradaban dunia menjadi lebih maju. Kemajuan ini tentu harus dibekali dengan kecerdasan intelektual, emosional juga kecerdasan spiritual. Bekal itu bisa didapatkan apabila perpustakaan menjadi bagian dari kehidupan mereka sehingga mereka menjadi generasi milenial cerdas dan berkelas.

 

 

 

Tidak ada komentar:

MARHABAN YA RAMADHAN

  MARHABAN YA RAMADHAN Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I Waktu terus berjalan seiring dengan perputaran bumi pada matahari. Hari ter...