Kamis, 02 Februari 2023

ENGKAULAN RATU LEBAH DIHATIKU

 


 ENGKAULAN RATU LEBAH DIHATIKU

Karya : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

“SAH”

Duaaaaar.......

Jantung berdegup kencang, hati bergetar tak karuan, lidah kelu tak bisa berucap, keringat dingin mengalir tak bisa ditahan, fikiran melayang dan rasa bahagia begitu membuncah. Bahkan tidak terasa bulir-bulir air mata menetes perlahan diiringi dengan ungkapan syukur dilubuk hati. Sungguh terharu dan tidak percaya karena bisa sampai dititik ini setelah melewati rintangan yang begitu terjal.

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَجْوِيْزَهَا بِمَهْرِ ذَالِكْ  Kalimat itulah yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Suatu kalimat sakral yang menjadikan hubungan suami istri menjadi halal dengan landasan mengikuti sunnah rasul. Pada saat itu rasa tegang, gugup, khawatir, takut, malu lenyap tak berbekas. Tergantikan dengan rasa bahagia yang tak terhingga dan rasa haru yang tidak menentu.

Pada saat ijab qobul saya sengaja menggunakan Bahasa Arab dengan pertimbangan supaya lebih simple. Apalagi latar belakang kami yang berbeda yakni keluarga saya berasal dari sunda dan tidak paham dengan bahasa jawa sebaliknya keluarga istri berasal dari Jawa dan tidak paham dengan bahasa sunda. Seandainya menggunakan salah satu bahasa daerah tentu akan kesulitan bagi salah satu pihak. 

Perjalanan menuju ijab qobul  begitu terjal dan berliku. Rasa perih menyayat hati serta gelombang tekanan yang begitu dahsyat sungguh mengerikan. Bukan dari orang lain, bukan pula dari sahabat karib namun dari saudara sendiri yang tidak mengizinkan saya untuk segera menikah. Dengan alasan bahwa saya belum mendapatkan pekerjaan yang layak menurut ukuran mereka. Saat itu saya hanyalah seorang guru honorer di salah satu lembaga pendidikan di Majalengka. Memang tidak bisa dipungkiri seandainya hanya melihat dari satu sisi yaitu penghasilan satu bulan hanya Rp. 250rb. Untuk makan tiga kali saja rasanya belum tentu cukup. Apalagi belum punya rumah untuk ditempati setelah menikah nanti. Saat itu saya masih tinggal di sudut Mesjid lantai dua bersama beberapa kawan. Wajar kalau perang bathin begitu terasa, namun dorongan untuk segera menikah begitu kuat untuk menghidari fitnah dari orang lain. Akhirnya saya memohon petunjuk kepada Allah SWT serta meminta saran dari beberapa kiyai agar mendapat pencerahan. Dan qodarullah ternyata Allah SWT membukakan jalan yang tidak disangka-sangka.

Masih teringat seandainya saya menyerah pada saat itu, mungkin tidak akan mendapatkan bidadari pujaan hati. Perjalanan itulah yang membuat saya tegar dan bertekad untuk mencintainya sepenuh jiwa, menyayanginya dengan penuh kesadaran, tidak akan meninggalkanya walaupun cobaan dan rintangan menghadang. Ingin selalu bersamanya, ingin menjaganya, ingin saling melengkapi disetiap celah kekurangannya. Bahkan lebih jauhnya ingin bersama-sama sampai ke syurganya Allah SWT.

Awal perkenalan dengan istri saya cukup unik dan menarik mungkin tidak jarang yang melakukannya. Pada saat itu saya bertekad untuk memiliki istri shalihah dengan dasar agama yang kuat. Dalam benak saya para santriwati yang belajar di Darut Tauhid pimpinan Aagym mereka memiliki pemahaman agama yang kuat serta termasuk kriteria akhwat yang sholehah.

 Dengan keyakinan inilah saya mencari beberapa nama melalui brosur kegiatan yang dilakukan oleh pesantren tersebut. Kebetulan di kampus IAIN Fakultas Tarbiyah terpampang satu brosur kegiatan pesantren kilat yang diadakan oleh panitia. Dengan spontan saya catat nomor HP yang tertera dibrosur tersebut kemudian saya hubungi melaui sms karena belum ada WA pada saat itu. Keberanian inilah yang masih terngiang-ngiang dan terkadang heran kepada diri sendiri. “Ko’ bisa ya saya melakukan itu dengan tanpa rasa malu, takut dan ragu”.  

Itulah permulaan perkenalan dengannya tanpa bertatap muka. Hanya terlintas sedikit bagaimana sosok akhwat yang menjadi idaman hati saya. Kesan pertama yang saya rasakan yakni dia orangnya baik, ramah sekalipun agak jutek. Berhubung kita sama-sama menempuh pendidikan Bahasa Arab maka komunikasipun sering menggunakan Bahasa Arab dan mungkin ini juga yang cukup unik diantara yang lain. Kalimat shobahul khoir, kaifa haaluk, madza taf’alina alaan adalah beberapa kalimat yang sering kami gunakan dalam percakapan.

Istriku tercinta....

Dilubuk hati yang paling dalam, kutambatkan rasa ini pada sang kholiq pencipta kesempurnaan. Saya bersyukur kepada pemilik segala kenikmatan atas segala anugerah yang telah engkau berikan kepada saya. Tak pernah meleset janji Allah SWT akan sebuah kebenaran bahwa akan dipertemukan orang baik dengan yang baik, orang sholehah dengan orang sholeh. Sekalipun saya menyadari bahwa untuk menjadi orang sholeh masih jauh dari kriteria tersebut. Namun Allah SWT menganugerahkan kepada saya pendamping hidup yang sangat sempurna dimata saya.

Istriku tercinta, engkau begitu sempurna. bukan hanya karena rupamu yang rupawan sehingga sedap dipandang namun jauh dari itu kedalaman imanmu yang tak goyah oleh zaman dan gemerlapnya dunia yang menakjubkan. Kesederhanaamu dalam sikap dan tutur kata menguatkanku untuk selalu setia padamu. Kesabaranmu yang begitu besar menjadikanku kuat dalam menapaki perjuangan hidup. Wahai istriku engkau laksana lebah yang mengakjubkan, berlimpah manfaat untuk orang sekitar. Engkau tercipta untuk sang pangeran yang lemah dan berlumur dosa. Engkau mampu menjaga diri dari godaan nafsu syaitan.

Wahai istriku yang penuh dengan pesona keindahan. Disetiap helaan nafas, kupanjatkan doa terbaik kepada-Nya agar engkau selalu dijaga dari segala marabahaya. Disetiap sujud terakhir, kupanjatkan doa kepada-Nya agar engkau selalu dianugrahi kemulyaan.  Disetiap langkah, ku panjatkan doa kepada-Nya agar engkau tetap dalam samudra cinta dan kerinduan. Hidup ini tak berarti tatkala jauh darimu, raga ini tak bergerak tatkala kau meninggalkanku. Jiwa ini hampa tanpa hadirmu disisku.

Wahai istriku. Mari kita bergandengan tangan dalam menaklukan samudra kehidupan. Tantangan dan rintangan yang selalu datang akan sirna tatkala kita bersama. Jadikan suka dan duka sebagai bumbu kehidupan yang akan menjadi cerita indah. (*) 


 

BIODATA PENULIS

 

Nama                             : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

Tempat Tanggal Lahir   : Majalengka, 19 September 1984

Pendidikan                    : TK Lampuyang (1991), SDN Margamukti 1 (1997), MTs Siti Khodijah Buah kapas (2000), MADU PUI Majalengka (2003), IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (2008) pada Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

 

Pengalaman Kerja:

Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Ar-Rahmat (2009-2013), guru SD Islam Ar-Rahmat (2009-2017), Guru Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Huda (2018-2019), Kepala Sekolah SD Islam Ar-Rahmat (2017 - 2019), Kepala Sekolah SMP Ar-Rahmat (2020 s.d sekarang).

Pengalaman Kepenulisan:

Penulis memiliki hobi menulis dan membaca.  Beberapa kegiatan yang diikuti penulis diantaranya pelatihan membuat puisi, cerpen, artikel, opini, esai dan pantun. Buku antologi pun terbit hasil dari pelatihan. Seperti pantun 1000 Guru Asean 2019, Puisi Akrostik KPPJ Jawa Barat 2019, Puisi Religi KPPJ Jawa Barat 2019, Puisi rindu RFM Pramedia 2020, antologi cerpen suara hati PGRI Majalengka, antologi PUISI AGP PGRI Majalengka, antologi artikel pada lomba menulis artikel ilmiah populer HUT PGRI ke-75 dan Hari  Guru Tahun 2020, antologi artikel Majalengka Wajahmu Kini (Bunga Rampai Guru Bicara Tentang Majalengka), antologi artikel Transformasi Media Belajar Pada Masa Pandemi, juga sedang menyelesaikan buku solo Kiat Praktis Menulis Artikel bersama kang Encon Rahman. Selain itu beberapa artikel sudah dimuat di Majalah AKSIOMA, SIGAP dan Majalah Geliat Gemilang Jawa Barat.

Pengalaman Organisasi:

·          Ketua HIMA PUI Bandung

·          Pengurus HIMABA IAIN Sunan Gunung Djati Bandung

·          Pengurus Pemuda PUI kota Bandung

·          Pendiri HIMA PUI IAIN Syekh Nurjati Cirebon

·          Ketua ATC (Ar-Rahmat Training Centre) Ponpes Modern Ar-Rahmat

·          Pengurus GLN Kabupaten Majalengka

Alamat Rumah                      : Blok Demang Rt 02/Rw 02 Desa Weragati Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka 45475.

Telp/HP.                                 :  08980051366

E-mail                                     : andprop16@gmail.com/andprop16@yahoo.com

BEDAH BUKU "MUDIRUNA" DAN MOTISANTRI


  BEDAH BUKU "MUDIRUNA" DAN MOTISANTRI

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

 

"Wah acaranya seru banget, jadi tambah semangat".

"Beneran acaranya tidak membosankan bahkan ketagiahan, semoga nanti ada lagi".

"Alhamdulillah saya dapat doorprize buku dan uang".

"Saya senang belajar di Pondok Pesantren Modern Ar Rahmat".

 

Itulah beberapa ungkapan kebahagiaan para santri Pondok Pesantren Modern ar Rahmat pada acara Bedah Buku "MUDIRUNA" yang dibawakan oleh DR.Saeful Fallah, M.Pd dari Ummul Quro University Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari selasa, 31 Januari 2023 di GOR Ar Rahmat. Lebih dari 400 peserta yang hadir, terdiri dari para santri dan asatid. Sejak pukul 08.00 WIB Mereka sudah berada di lokasi dengan iringan hadroh ar Rahmat. Antusias para santri pada kegiatan ini begitu tinggi, karena kegiatan semacam ini baru pertama kali di Pondok Pesantren Modern ar Rahmat sehingga mereka penasaran ingin bertemu langsung dengan penulisnya serta mendapatkan motivasi belajar. 

 

Bapak DR.Saeful Fallah bersama rombongan melakukan roadshow ke beberapa pondok pesantren yang ada alumni Ummul Quro. Selain untuk silaturahim, bedah buku juga memberikan motisantri agar para santri kerasan tinggal di pondok pesantren dan sukses dikemudian hari seperti  KH.Helmy pendiri Ummul Quro yang sudah sukses dengan ribuan santri.

 

Acara bedah buku dimulai dengan basmallah yang dipandu oleh dua orang MC, kemudian dilanjut dengan sambutan dari wakil pengasuh yaitu ust.Arif Miftahurrahman. Dalam sambutannya beliau mengungkapakn rasa syukur dan bahagia karena kedatangan Ketua Yayasan, Rektor sekaligus sahabat beliau pada saat di Ummul Quro. Harapan beliau semoga dengan acara ini bisa menambah spirit bagi para santri dan asatid ar Rahmat. Mereka mampu berjuang untuk menimba ilmu dan sukses dikemudian hari. Selain itu, permohonan maaf beliau sampaikan atas segala kekurangannya.

 

Pada acara inti, bapak DR.Syaiful Falah, M.Pd. pertama kali menyapa para santri menggunakan Bahasa Arab. “Kaifa Haaluk?”. Para santri dengan serempak menjawab. “Inni bikhoir ya ustadz”. Kemudian beliau melanjutkan, “Kalau saya bilang selamat pagi, maka kalian tepuk satu kali, kalau selamat siang tepuk dua kali, selamat sore tepuk tiga kali dan selamat malam tidak ada tepuk tangan atau tidak ada suara”. “Fahimtum?”. Ujar beliau. “Fahimna ya ustadz”. Jawab para santri dengan semangat. Kemudian bergemuruhlah suara tepuk tangan menggema memenuhi ruangan gor tercinta kebanggaan ar Rahmat.

 

Dalam paparannya, beliau menyampaikan perjalanan kehidupannya yang cukup terjal dan berliku. Namun beliau menjalaninya dengan ikhlas. Peristiwa yang tidak terduga sering beliau alami yang kemudian diambil pelajarannya untuk kebaikan dimasa mendatang. Beliau berpesan kepada para santri ar Rahmat agar mampu melakukan empat langkah jitu untuk masa depan yang lebih cerah. Pertama, Hijrah. Hijrah artinya pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan menimba ilmu, menambah wawasan dan pengalaman. Pindah dari kemalasan menjadi rajin belajar, pindah dari tidak bermanfaat menjadi manfaat. Hijrah seperti ini sudah dicontohkan oleh baginda Rasul Muhammad SAW yaitu dari Mekkah ke Madinah dan hasilnya luar biasa menjadikan Islam menyebar begitu luas di seluruh dunia. Begitu juga guru kita KH. Helmy pendiri Yayasan Ummul Quro yang sudah hijrah dari kampung halamannya menuju daerah Bogor pada usia 12 tahun. Dan para santri juga sudah melakukan hijrah dari rumah menuju pesantren untuk menimba ilmu baik agama maupun umum serta pembentukan akhlaq yang akan berguna dikemudan hari. Oleh karena itu jangan menyia-nyiakan waktu di pesantren. “Al waktu kasyaif. Waktu itu ibarat pedang”. Ungkap beliau.

 

Kedua, Sabar. Seorang santri harus bersabar dalam mencari ilmu. Pantang menyerah dalam menghadapi problema yang terjadi dikehidupan pesantren serta pantang mengeluh dari padatnya agenda yang dijalani setiap hari. Karena hanya dengan bersabar seseorang akan beruntung. Sabar dalam pandangan beliau seperti memakan buah mahoni yang rasanya sangat pahit. Butuh kekuatan dalam diri untuk menahan rasa pahit tersebut yang kemudian menjadi manis diakhirnya. Sama halnya dengan tinggal di pesantren, menu makanan tidak mewah namun nikmat rasanya, tidur dimana saja tidak jadi masalah yang penting pulas karena tidak sedikit orang yang bergelimang harta namun susah tidur. Jadwal pelajaran begitu padat seolah-olah tidak ada waktu untuk bermain karena disibukkan dengan kegiatan positif. Semua itu harus dijalani dengan sabar.” Ash shobru kash sibri, murrun fii madzaaqotihi laakinna ‘awaaqibuhuu ahlaa minal ‘asali”. Kesabaran itu bagai shiber (sejenis tanaman obat) yang rasanya pahit akan tetapi hasil yang didapatkan setelahnya lebih manis daipada madu. Santri harus mau berjuang, jangan sedikit-sedikit capek, ngantuk, malas tetapi harus tetap semangat demi masa depan yang lebih cerah.

Pada sesi ini beliau memberikan kesempatan kepada para santri yang bisa menerjemahkan mahfudhot “man shobaro dhofiro”. Apabila ada yang bisa menjawabnya dengan tepat maka akan diberikan reward berupa buku. Ternyata para santri ar Rahmat cerdas-cerdas dan berani, salah satu dari santri putra SMP mampu menerjemahkan mahfudhot tersebut dan akhirnya mendapatkan reward. Alhamdulillah.

Ketiga, Belajar. Belajar bagi para santri menjadi menu pavorit setiap hari. Karena hanya dengan belajarlah kita bisa hidup sejahtera didunia maupun akhirat. Belajar tidak mengenal usia, belajar tidak ada kata terlambat dan belajar harus dilakukan sepanjang hayat seperti pesan Rasulullah SAW : “Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.  

Sejenak mari kita mengingat kisah ulama besar asal Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi rujukan para ulama Indonesia bahkan dunia. Beliau juga seorang imam masjidil haram dan masjid nabawi. Beliau adalah Syekh Nawawi Al-Bantani, beliau merupakan guru  atau pengajar sekaligus ilmuwan yang melahirkan banyak kitab dan literatur untuk generasi mendatang. Beliau dilahirkan pada tahun 1230 H/1813 M di Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Ketika usia 5 tahun, Syekh Nawawi bersama saudara-saudaranya mendapat pendidikan langsung dari ayahandanya. Ilmu-ilmu yang dipelajari meliputi pengetahuan dasar bahasa Arab, Fiqih, Tauhid dan Tafsir. Setelah 3 tahun belajar pengetahuan dasar tersebut, Syekh Nawawi kemudian menimba ilmu ke beberapa pesantren dan Jawa. Kemudian beliau belajar ke Mekkah selain untuk menunaikan ibadah haji. Sekitar 30 tahun beliau belajar disana dan kemudian mengamalkan ilmunya dengan mengajar dan menuangkan ide-idenya dengan mengarang berbagai kitab.

Berkaitan dengan belajar ustad Syaeful Fallah melemparkan pertanyaan kepada para santri. “Siapa diantara kalian yang berani menyebutkan 6 syarat mencari ilmu yang terdapat dalam kitab Ta’lim Al-Muta’alim?”. Tidak lama kemudian ada salah satu santriwati kelas 6 MAU maju ke panggung dan disambut dengan gemuruh tepuk tangan oleh santri yang lain. Santriwati tersebut menjelaskan dengan lantang dan rinci. “Dalam kitab Ta’lim Muta’alim Syaikh Az-Zarnuji menuliskan dua bait syair dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A. kedua bait syair tersebut yaitu : “Ingatlah!! Kalian tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan enam syarat, yaitu cerdas, bersungguh-sungguh, sabar, biaya, petunjuk ustad dan lama waktunya”. Ungkapnya. Ust. Syaiful Fallah merasa bangga dengan santri ar Rahmat dan tidak segan-segan memberikan reward berupa buku Mudiruna dan juga uang.

Pada syara kelima yaitu petunjuk ustad, beliau mengisahkan pengalaman KH Helmy yang sempat dikeluarkan dari kelas karena setiap pelajaran Al-Jabbar selalu tidur, alasanya karena tidak suka dengan pelajaran tersebut dan merasa tidak bisa. Suatu hari beliau hendak ke kelas untuk mengikuti pelajaran, namun belum sampai ke ruang kelas gurunya menulis di papan tulis “Helmy keluar”. Nama panggilan pada waktu itu. Sontak saja Kiyai Helmy kaget dan tidak jadi masuk kelas serta kembali ke hujroh/kamar. Dari kejadian tersebut beliau mulai merenung dan kemudian menyadari perbuatannya yang salah. Akhirnya beliau menemui gurunya untuk meminta maaf. Namun gurunya tidak mau memaafkan, Kiyai Helmi tidak putus asa dan melakukannya sampai tiga hari. Sebagai seorang guru yang sayang kepada semua santrinya akhirnya beliau mau memaafkan Kiyai Helmy serta memperbolehkannya untuk ikut belajar di kelas. Sejak saat itu Kiyai Helmy tidak pernah tidur dikelas bahkan sangat giat belajar dibanding dengan teman-teman yang lainnya dan pada akhirnya beliau lulus dan mendapatkan nilai terbaik. Ini adalah bukti bahwa petunjuk ustad itu sangat penting, maka para santri ar Rahmat wajib hukumnya taat kepada ustad agar mendapatkan keberkahan dikemudian hari.

Keempat, Akhlaqul karimah. Pesantren adalah tempat pembentukan akhlaq. Para santri bukan hanya sekadar mendapat ilmu tentang akhalq namun lebih dari itu yaitu teladan para asatid dan itu menjadi bagian dari pendidikan terbaik. Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT yaitu untuk menyempurnakan akhlaq. Dan dengan akhlaq yang sempurna akhirnya Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia serta menjadi rahmatan lil ‘alamin. Inilah yang harus ditiru dan dipraktekkan oleh para santri ar Rahmat.

Pada sesi terakhir beliau menyampaikan bahwa para santri harus semangat belajar, selalu taat kepada para ustad dan juga banyak membaca. Dengan banyak membaca akan mendapatkan asupan gizi bagi otak dan bisa menuangkannya dalam tulisan sehingga dikemudian hari bisa menjadi para penulis hebat yang karyanya abadi dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Beliau juga menyampaikan bahwa seorang santri harus bisa menjadi apa saja selagi itu bermanfaat.

Acara berakhir dengan sesi photo bersama dan mushofahah. *

UNIV DAY DAN TALK SHOW PONPES MODERN AR RAHMAT

 

 

UNIV DAY DAN TALK SHOW

PONPES MODERN AR RAHMAT

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

 Ponpes Modern Ar Rahmat sukses menyelenggarakan kegiatan UNIV DAY berupa Talk Show dan Training Motivasi. Kegiatan ini bertempat di GOR Ar Rahmat. Sebagai narasumber pada kegiatan ini ialah Teh Ici Yulianti, S.Pd. Beliau merupakan ajudan Wakil Gubernur Jawa Barat. (16/1/2022)

Kegiatan ini merupakan program tahunan sebagai wadah informasi bagi para santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dan kali ini tahun ke-2 setelah sebelumnya dilaksanakan secara sederhana. Diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al Quran oleh alumni MA Unggulan Ar Rahmat, dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia ust. Syarif Hidayat, S.Pd.I dan Kepala Sekolah SMP Ar Rahmat Ust. Andri Dian Suandri, S.Pd.I.

Dalam sambutannya mereka menyampaikan bahwa kegiatan UNIV DAY dan Talk Show seperti ini merupakan kegiatan positif karena sangat jarang Sekolah maupun Pondok Pesantren yang dengan intens mempasilitasi para santri mengenai perguruan tinggi serta informasi beasiswa secara komprehensif. Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan seperti ini baru ada di Majalengka yaitu di Ponpes Modern Ar Rahmat dan ini menjadi salah satu ciri khas dari pesantren yang lain.

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Ar Rahmat Abi Adib, M.Ag. Juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan UNIV DAY dan Talk Show ini sangat baik dan penting, agar  menambah wawasan para santri tentang perguruan tinggi yang akan dituju. Karena tidak sedikit dari para santri maupun orang tua yang melanjutkan kuliah hanya ikut-ikutan tren atau teman.

"Waktu zaman abi, untuk mendapatkan informasi tentang perguruan tinggi yang ingin dituju masih sangat sulit dan harus mencari sendiri ditambah dengan belum adanya akses media sosial. Namun sekarang sangat mudah yang penting kalian rajin mencarinya". Ungkapnya.

Kalau berbicara tentang perkuliahan, jangan bilang masih lama walaupun mungkin sekarang masih duduk di kelas 10, 11 bahkan di bangku SMP. Tidak akan terasa dengan  berjalannya waktu yang sangat cepat sehingga diperlukan pengetahuan dan persiapan sejak dini. Dunia perguruan tinggi merupakan jembatan menuju kesuksesan. Jika diibaratkan, kita sedang menuju satu daratan kesuksesan maka untuk mencapainya dibutuhkan jembatan penghubung.

Sampai hari ini yang menikmati pendidikan di perguruan tinggi negeri kebanyakan non muslim dan China. Mereka sudah menyadari pentingnya pendidikan sehingga mereka mencarinya dengan giat dan pantang menyerah.

Contoh Fakultas Kedokteran di UNDIV yang merupakan fakultas pavourite. Untuk bisa masuk ke Fakultas tersebut dibutuhkan orang-orang cerdas, skill yang mumpuni dan tentu biaya yang tinggi. Memang kalau dibandingkan antara kuliah di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta biayanya sangat jauh. Kalau di swasta bayarannya untuk uang pangkal saja bisa mencapai Rp. 500.000.000 belum termasuk uang smesteran, uang praktek, beli kadaper (mayat) untuk praktek dan yang lainnya.

Kalau di Perguruan Tinggi Negeri hanya sekitar Rp. 12.000.000 persemester dan itu kategori murah. Karena pemerintah yang membiayai dosennya, gedungnya, sarana prasarananya sehingga mahasiswa tinggal mau belajarnya terlebih bagi yang mendapatkan beasiswa akan sangat terbantu.

Contoh berikutnya yaitu Fakultas Teknik Elektro di ITB.  Fakultas ini sangat keren dan menjadi buruan para pelajar yang ingin menimba ilmu di fakultas tersebut. Untuk masuk ke fakultas ini memang tidak mudah karena harus bersaing dengan ratusan bahkan ribuan mahasiswa se-Indonesia. Namun tidak ada yang tidak mungkin jika berusaha dengan maksimal.

Oleh karena itu para santri harus giat dan jangan alergi untuk belajar Sains, Ipa dan Matematika. Disinilah para santri dituntut harus menguasai semuanya, santri harus mengakses semua informasi yang sekarang mudah didapatkan. Abi Adib menambahkan bahwa para santri harus bisa meneladani Prof. Dr.-Ing. Ir. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng. Beliau adalah Presiden Republik Indonesia ketiga dan juga seorang tokoh bangsa yang dimiliki bangsa Indonesia. Banyak karya fenomenal yang beliau torehkan untuk bangsa ini salah satunya pembuatan pesawat terbang. Dari karyanya itu keluarlah hak paten dan tentu royalty terus menglir ke keluarganya. Dengan kecerdasannya beliau dikenal bukan hanya di negera Indonesia namun juga mancanegara. Bahkan beberapa negara dengan terang-terangan menginginkan beliau untuk mengembangkan ilmu penerbangan di negaranya, namun beliau sangat cinta  Negara Indonesia.

Prof. Dr.-Ing. Ir. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng. juga dikenal sebagai santri. Sifat santrinya terus melekat serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti puasa senin, kamis dan membaca Al Quran tidak pernah beliau tinggalkan.

Untuk memotivasi para santri, abi Adib juga mengutip beberapa ayat Al Quran yaitu surat Al balad ayat : 11- 13 yang berbunyi :

"Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar”.

"Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?".

"(yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)".

Membebaskan ummat manusia dari segala jenis keterpurukan, kebodohan dan keterbelakangan merupakan kewajiban kita. Dan untuk mewujudkannya tentu dengan menempuh pendidikan. Jangan merasa puas hanya selesai di tingkat SMP atau SMA, tetapi upayakan untuk lanjut ke S1, S2 bahkan S3.

Kita ini sudah merdeka sejak 75 tahun lalu. Maka pendidikan menjadi keniscayaan bagi kita. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan berbagai prestasi yang membanggakan, jangan sampai kita mengekor kepada bangsa lain. Dan perlu diingat bahwa ditahun 2045 Indonesia akan menjadi negara maju. Nah pertanyaannya : "Apakah kita akan menjadi penonton, ataukah menjadi bagian dari kemajuan itu?".

Jawabannya yaitu dengan pendidikan yang berkualitas. Ujar beliau sambil menutup sambutannya.

Sementara Teh Ici sebagai narasumber menyampaikan memberikan tips untuk masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya. Beliau juga berbagi pengalamannya sampai bisa seperti ini.

Bagi anak muda dan hidup. (*)

PROBLEMATIKA ANAK DAN SOLUSINYA

 

 

 


PROBLEMATIKA ANAK DAN SOLUSINYA

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

Salah satu anugerah terbesar dalam hidup adalah diberikan amanah berupa anak. Hadirnya anak tidak bisa dipaksa ataupun dilarang karena itu adalah kehendak Allah SWT. Namun kewajiban kita sebagai hamba-Nya adalah berusaha maksimal. Dan upaya maksimal inilah yang akan mengantarkan terhadap pertolongan Allah SWT. Tidak sedikit pasangan yang berusaha melakukan program namun belum juga diberikan kepercayaan oleh Allah SWT atas kehadiran buah hatinya.

Pasangan yang sudah lama menikah dan belum dikaruniai seorang anak memang sangat merindukan. Karena salah satu tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan. Keturunan itulah yang akan meneruskan perjuangan dan estapeta kehidupan orang tuanya. Banyak dari mereka yang rela mengadopsi anak dengan harapan setelah mengurusinya bisa memancing hadirnya anak dari rahimnya sendiri. Ada yang berhasil atas izin Allah SWT namun tidak jarang yang gagal. Yang terpenting harapan itu jangan sampai putus.

Kisah nabi Ibrahim as dan Siti Hajar bisa diambil pelajaran. Mereka berdua baru dikaruniai seorang anak ketika sudah lanjut usia. Mungkin saja berkat doa-doa mereka berdua yang terus-menerus pantang menyerah. Disamping itu keyakinan yang kuat serta selalu berprasangka baik kepada Allah SWT yang mengantarkan pada terkabulnya doa mereka.

Allah SWT juga sudah membuktikan kemahakuasaannya. Tidak ada yang mustahil bagiNya untuk menjadikan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, yang tidak lengkap menjadi sempurna seperti kisah Siti Maryam yang memiliki anak yaitu nabi Isa as dengan tanpa seorang ayah. Siti Maryam merupakan wanita sholehah yang tidak pernah disentuh oleh siapapun. Secara logika seorang istri apabila tidak dibuahi oleh laki-laki maka tidak akan terjadi kehamilan. Namun logika itu dimentahkan oleh kemahakuasaan Allah SWT.

Menurut WHO definisi anak adalah dihitung sejak seseorang di dalam kandungan sampai dengan usia 19 tahun. Menurut Undang - Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 pasal 1 ayat 1 tentang perlindungan anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk juga yang masih di dalam kandungan.

Anak adalah permata indah yang keluguannya alamiah. Manjanya membuat lelah orang tua sirna tak berbekas. Senyumnya adalah bunga-bunga cinta, Airmatanya adalah butiran kesedihan yang sangat berharga, lenggak lenggoknya bak tarian ombak dilautan yang menggetarkan jiwa. Bahkan tangisnya adalah kehangatan di tengah kesepian.

 

Kehadiran anak merupakan amanah yang dititipkan Allah SWT kepada kita. Kita sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk menjaga, merawat, membina, mendidik, mengarahkan karena suatu saat anak kita akan diambil kembali oleh pemiliknya yaitu Allah SWT. Mendidik anak tidak semudah membalikan telapak tangan, membutuhkan kesabaran, ketelatenan, tauladan dan tentu  ilmu. Karena setiap fase anak memiliki keunikan dan juga penanganan yang berbeda-beda.

Semisal anak di usia 0-6 bulan dia baru bisa menangis dengan berbagai model untuk menunjukan kepada kita bahwa dia lapar, sakit, basah atau kesepian. Atau bersuara denagan intonasi yang bermacam-macam untuk mengekspresikan ketidaknyamanannya. Maka penanganan bayi seperti ini kita mesti memberi respon dengan cara mengajaknya berbicara dan yang perlu diperhatikan adalah gunakan ungkapan yang tepat misalnya susu bukan cucu, pergi bukan pegi dan seterusnya.

Apabila anak menginjak usia 6-12 bulan dimana dia sudah bisa menggerak-gerakkan tangan dan melambaikannya serta sudah mengerti nama-nama benda atau tempat-tempat yang sering ditunjukkan seperti kamar tidur, kamar mandi, dapur maka yang bisa orang tua lakukan ialah mengenalkan sebanyak mungkin objek kepada anak serta menjelaskannya sebagai pembelajaran bagi anak. Disamping itu iringi dengan nyanyian lagu-lagu yang merangsang motorik anak atau lebih bagusnya dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran.

Pada usia 4-5 tahun anak sudah mulai mengenali huruf yang diajarkan bahkan sudah ada yang bisa membaca atau menulis namanya. Mengenali kata-kata familiar dalam buku atau dalam bahasa sehari-hari, selain itu juga sudah mengenali tanda, misalnya tanda stop, tanda dilarang dan seterusnya. Dalam hal ini orang tua bisa sering mengajak anak-anak ke toko buku, perpustakaan atau tempa-tempat rekreasi. Semua ini akan memperkaya pikirarnnya dan tidak lupa untuk merangsang anak agar mau menceritakan pengalamannya setelah berkunjung.

Begitupun anak diusia SD yang sudah lebih memahami dirinya dan sudah siap bersosialisasi dengan teman-temannya. Bimbingan yang intensif serta pengawasan kepada anak-anak harus terus dilakukan agar anak tidak salah dalam melakukan tindakan. Orang tua juga jangan pelit memberi pujian atau reward pada saat anak melakukan suatu kebaikan karena hal itu akan menambah semangatnya.

Anak adalah aset bangsa yang sangat berharga. Mereka merupakan generasi penerus yang akan hidup dizamannya dengan beragam tantangan. Tantangan yang sangat besar adalah gempuran penggunaan media sosial. Terlepas dari sisi positifnya yang apabila digunakan dengan baik akan sangat bermanfaat namun efek negatifnya sangat besar ditambah dengan lemahnya mental anak-anak. Maka tidak mengherankan apabila kita sering menyaksikan berbagai kenakalan. Mulai dari tawuran, bullying, penyalahgunaan narkoba, pencurian bahkan penganiayaan yang berujung pada kematian. 

Selain dari pengaruh media sosial, beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya pola asuh keluarga yang kurang tepat, serta pengaruh lingkungan. Berkaitan dengan pola asuh keluarga. Dr. Netty Prasetiyani Heryawan, M.Si menjelaskan bahwa tiga macam pola asuh yang mesti dipahami serta dilaksanakan oleh para orang tua agar pendidikan karakter dikeluarga berhasil. Pola asuh tersebut diantaranya. Pertama, Interaksi. Dalam hal ini sebagai orang tua mesti sering melakukan interaksi dengan anak dan menempatkannya sebagai sahabat agar setiap keluh kesah anak bisa didiskusikan dengan baik dan tidak ada rasa kaku. Kedua, Stimulasi. Orang tua mesti memberikan stimulasi kepada anak sekaligus pemahaman agar anak lebih mengerti tentang hakikat kehidupan serta pemahaman tentang penggunaan media sosial yang semakin menjamur. Dengan demikian diharapkan anak bisa lebih bijak dalam penggunaan media sosial. Ketiga, Konsisten, orang tua harus konsisten pada saat memberikan hukuman kepada anak. Apabila seorang anak melanggar peraturan dan sudah disepakati bersama sehingga anak merasa segan kepada orang tuanya bukan sekadar rasa takut yang kadang manipulatif. Orang tua tidak boleh plin plan yang membuat anak tidak percaya.

Faktor selanjutnya yang sangat mempengaruhi prilaku anak ialah lingkungan. Lingkungan adalah tempat bagi anak untuk hidup bersosialisasi dengan teman-temannya. Dengan seringnya berkumpul, bermain, berinteraksi maka segala sesuatu yang berkaitan dengan prilaku baik maupun buruk akan cepat menular. Kewajiban orang tua selain mengawasi dengan ketat juga memberikan pemahaman kepada anak agar bisa menjaga diri dan tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif.

Dari semua faktor yang mempengaruhi anak, maka pendidikan karakter sejak dini menjadi solusi. Pendidikan karakter merupakan sistem pendidikan yang berupaya menanamkan nilai-nilai luhur. nilai-nilai luhur budaya bangsa yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter yang pertama dan utama adalah dari keluarga. Karena dalam keluarga, anak-anak akan mendapatkan pendidikan karakter dasar yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan mereka, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Lebih dari itu, menurut Ahmad Tafsir, melakukan pendidikan agama dalam keluarga, berarti ikut berusaha menyelamatkan generasi muda.(*)

 

 

MARHABAN YA RAMADHAN

  MARHABAN YA RAMADHAN Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I Waktu terus berjalan seiring dengan perputaran bumi pada matahari. Hari ter...