ENGKAULAN RATU LEBAH DIHATIKU
Karya : Andri Dian Suandri, S.Pd.I
“SAH”
Duaaaaar.......
Jantung berdegup kencang, hati bergetar tak karuan, lidah kelu tak bisa berucap, keringat dingin mengalir tak bisa ditahan, fikiran melayang dan rasa bahagia begitu membuncah. Bahkan tidak terasa bulir-bulir air mata menetes perlahan diiringi dengan ungkapan syukur dilubuk hati. Sungguh terharu dan tidak percaya karena bisa sampai dititik ini setelah melewati rintangan yang begitu terjal.
قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَجْوِيْزَهَا بِمَهْرِ ذَالِكْ Kalimat itulah yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Suatu kalimat sakral yang menjadikan hubungan suami istri menjadi halal dengan landasan mengikuti sunnah rasul. Pada saat itu rasa tegang, gugup, khawatir, takut, malu lenyap tak berbekas. Tergantikan dengan rasa bahagia yang tak terhingga dan rasa haru yang tidak menentu.
Pada saat ijab qobul saya sengaja menggunakan Bahasa Arab dengan pertimbangan supaya lebih simple. Apalagi latar belakang kami yang berbeda yakni keluarga saya berasal dari sunda dan tidak paham dengan bahasa jawa sebaliknya keluarga istri berasal dari Jawa dan tidak paham dengan bahasa sunda. Seandainya menggunakan salah satu bahasa daerah tentu akan kesulitan bagi salah satu pihak.
Perjalanan menuju ijab qobul begitu terjal dan berliku. Rasa perih menyayat hati serta gelombang tekanan yang begitu dahsyat sungguh mengerikan. Bukan dari orang lain, bukan pula dari sahabat karib namun dari saudara sendiri yang tidak mengizinkan saya untuk segera menikah. Dengan alasan bahwa saya belum mendapatkan pekerjaan yang layak menurut ukuran mereka. Saat itu saya hanyalah seorang guru honorer di salah satu lembaga pendidikan di Majalengka. Memang tidak bisa dipungkiri seandainya hanya melihat dari satu sisi yaitu penghasilan satu bulan hanya Rp. 250rb. Untuk makan tiga kali saja rasanya belum tentu cukup. Apalagi belum punya rumah untuk ditempati setelah menikah nanti. Saat itu saya masih tinggal di sudut Mesjid lantai dua bersama beberapa kawan. Wajar kalau perang bathin begitu terasa, namun dorongan untuk segera menikah begitu kuat untuk menghidari fitnah dari orang lain. Akhirnya saya memohon petunjuk kepada Allah SWT serta meminta saran dari beberapa kiyai agar mendapat pencerahan. Dan qodarullah ternyata Allah SWT membukakan jalan yang tidak disangka-sangka.
Masih teringat seandainya saya menyerah pada saat itu, mungkin tidak akan mendapatkan bidadari pujaan hati. Perjalanan itulah yang membuat saya tegar dan bertekad untuk mencintainya sepenuh jiwa, menyayanginya dengan penuh kesadaran, tidak akan meninggalkanya walaupun cobaan dan rintangan menghadang. Ingin selalu bersamanya, ingin menjaganya, ingin saling melengkapi disetiap celah kekurangannya. Bahkan lebih jauhnya ingin bersama-sama sampai ke syurganya Allah SWT.
Awal perkenalan dengan istri saya cukup unik dan menarik mungkin tidak jarang yang melakukannya. Pada saat itu saya bertekad untuk memiliki istri shalihah dengan dasar agama yang kuat. Dalam benak saya para santriwati yang belajar di Darut Tauhid pimpinan Aagym mereka memiliki pemahaman agama yang kuat serta termasuk kriteria akhwat yang sholehah.
Dengan keyakinan inilah saya mencari beberapa nama melalui brosur kegiatan yang dilakukan oleh pesantren tersebut. Kebetulan di kampus IAIN Fakultas Tarbiyah terpampang satu brosur kegiatan pesantren kilat yang diadakan oleh panitia. Dengan spontan saya catat nomor HP yang tertera dibrosur tersebut kemudian saya hubungi melaui sms karena belum ada WA pada saat itu. Keberanian inilah yang masih terngiang-ngiang dan terkadang heran kepada diri sendiri. “Ko’ bisa ya saya melakukan itu dengan tanpa rasa malu, takut dan ragu”.
Itulah permulaan perkenalan dengannya tanpa bertatap muka. Hanya terlintas sedikit bagaimana sosok akhwat yang menjadi idaman hati saya. Kesan pertama yang saya rasakan yakni dia orangnya baik, ramah sekalipun agak jutek. Berhubung kita sama-sama menempuh pendidikan Bahasa Arab maka komunikasipun sering menggunakan Bahasa Arab dan mungkin ini juga yang cukup unik diantara yang lain. Kalimat shobahul khoir, kaifa haaluk, madza taf’alina alaan adalah beberapa kalimat yang sering kami gunakan dalam percakapan.
Istriku tercinta....
Dilubuk hati yang paling dalam, kutambatkan rasa ini pada sang kholiq pencipta kesempurnaan. Saya bersyukur kepada pemilik segala kenikmatan atas segala anugerah yang telah engkau berikan kepada saya. Tak pernah meleset janji Allah SWT akan sebuah kebenaran bahwa akan dipertemukan orang baik dengan yang baik, orang sholehah dengan orang sholeh. Sekalipun saya menyadari bahwa untuk menjadi orang sholeh masih jauh dari kriteria tersebut. Namun Allah SWT menganugerahkan kepada saya pendamping hidup yang sangat sempurna dimata saya.
Istriku tercinta, engkau begitu sempurna. bukan hanya karena rupamu yang rupawan sehingga sedap dipandang namun jauh dari itu kedalaman imanmu yang tak goyah oleh zaman dan gemerlapnya dunia yang menakjubkan. Kesederhanaamu dalam sikap dan tutur kata menguatkanku untuk selalu setia padamu. Kesabaranmu yang begitu besar menjadikanku kuat dalam menapaki perjuangan hidup. Wahai istriku engkau laksana lebah yang mengakjubkan, berlimpah manfaat untuk orang sekitar. Engkau tercipta untuk sang pangeran yang lemah dan berlumur dosa. Engkau mampu menjaga diri dari godaan nafsu syaitan.
Wahai istriku yang penuh dengan pesona keindahan. Disetiap helaan nafas, kupanjatkan doa terbaik kepada-Nya agar engkau selalu dijaga dari segala marabahaya. Disetiap sujud terakhir, kupanjatkan doa kepada-Nya agar engkau selalu dianugrahi kemulyaan. Disetiap langkah, ku panjatkan doa kepada-Nya agar engkau tetap dalam samudra cinta dan kerinduan. Hidup ini tak berarti tatkala jauh darimu, raga ini tak bergerak tatkala kau meninggalkanku. Jiwa ini hampa tanpa hadirmu disisku.
Wahai istriku. Mari kita bergandengan tangan dalam menaklukan samudra kehidupan. Tantangan dan rintangan yang selalu datang akan sirna tatkala kita bersama. Jadikan suka dan duka sebagai bumbu kehidupan yang akan menjadi cerita indah. (*)
BIODATA PENULIS
Nama : Andri Dian Suandri, S.Pd.I
Tempat Tanggal Lahir : Majalengka, 19 September 1984
Pendidikan : TK Lampuyang (1991), SDN Margamukti 1 (1997), MTs Siti Khodijah Buah kapas (2000), MADU PUI Majalengka (2003), IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (2008) pada Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.
Pengalaman Kerja:
Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Ar-Rahmat (2009-2013), guru SD Islam Ar-Rahmat (2009-2017), Guru Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Huda (2018-2019), Kepala Sekolah SD Islam Ar-Rahmat (2017 - 2019), Kepala Sekolah SMP Ar-Rahmat (2020 s.d sekarang).
Pengalaman Kepenulisan:
Penulis memiliki hobi menulis dan membaca. Beberapa kegiatan yang diikuti penulis diantaranya pelatihan membuat puisi, cerpen, artikel, opini, esai dan pantun. Buku antologi pun terbit hasil dari pelatihan. Seperti pantun 1000 Guru Asean 2019, Puisi Akrostik KPPJ Jawa Barat 2019, Puisi Religi KPPJ Jawa Barat 2019, Puisi rindu RFM Pramedia 2020, antologi cerpen suara hati PGRI Majalengka, antologi PUISI AGP PGRI Majalengka, antologi artikel pada lomba menulis artikel ilmiah populer HUT PGRI ke-75 dan Hari Guru Tahun 2020, antologi artikel Majalengka Wajahmu Kini (Bunga Rampai Guru Bicara Tentang Majalengka), antologi artikel Transformasi Media Belajar Pada Masa Pandemi, juga sedang menyelesaikan buku solo Kiat Praktis Menulis Artikel bersama kang Encon Rahman. Selain itu beberapa artikel sudah dimuat di Majalah AKSIOMA, SIGAP dan Majalah Geliat Gemilang Jawa Barat.
Pengalaman Organisasi:
· Ketua HIMA PUI Bandung
· Pengurus HIMABA IAIN Sunan Gunung Djati Bandung
· Pengurus Pemuda PUI kota Bandung
· Pendiri HIMA PUI IAIN Syekh Nurjati Cirebon
· Ketua ATC (Ar-Rahmat Training Centre) Ponpes Modern Ar-Rahmat
· Pengurus GLN Kabupaten Majalengka
Alamat Rumah : Blok Demang Rt 02/Rw 02 Desa Weragati Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka 45475.
Telp/HP. : 08980051366
E-mail : andprop16@gmail.com/andprop16@yahoo.com



