PROBLEMATIKA ANAK DAN SOLUSINYA
Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I
Salah satu anugerah terbesar dalam hidup adalah diberikan amanah berupa anak. Hadirnya anak tidak bisa dipaksa ataupun dilarang karena itu adalah kehendak Allah SWT. Namun kewajiban kita sebagai hamba-Nya adalah berusaha maksimal. Dan upaya maksimal inilah yang akan mengantarkan terhadap pertolongan Allah SWT. Tidak sedikit pasangan yang berusaha melakukan program namun belum juga diberikan kepercayaan oleh Allah SWT atas kehadiran buah hatinya.
Pasangan yang sudah lama menikah dan belum dikaruniai seorang anak memang sangat merindukan. Karena salah satu tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan. Keturunan itulah yang akan meneruskan perjuangan dan estapeta kehidupan orang tuanya. Banyak dari mereka yang rela mengadopsi anak dengan harapan setelah mengurusinya bisa memancing hadirnya anak dari rahimnya sendiri. Ada yang berhasil atas izin Allah SWT namun tidak jarang yang gagal. Yang terpenting harapan itu jangan sampai putus.
Kisah nabi Ibrahim as dan Siti Hajar bisa diambil pelajaran. Mereka berdua baru dikaruniai seorang anak ketika sudah lanjut usia. Mungkin saja berkat doa-doa mereka berdua yang terus-menerus pantang menyerah. Disamping itu keyakinan yang kuat serta selalu berprasangka baik kepada Allah SWT yang mengantarkan pada terkabulnya doa mereka.
Allah SWT juga sudah membuktikan kemahakuasaannya. Tidak ada yang mustahil bagiNya untuk menjadikan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, yang tidak lengkap menjadi sempurna seperti kisah Siti Maryam yang memiliki anak yaitu nabi Isa as dengan tanpa seorang ayah. Siti Maryam merupakan wanita sholehah yang tidak pernah disentuh oleh siapapun. Secara logika seorang istri apabila tidak dibuahi oleh laki-laki maka tidak akan terjadi kehamilan. Namun logika itu dimentahkan oleh kemahakuasaan Allah SWT.
Menurut WHO definisi anak adalah dihitung sejak seseorang di dalam kandungan sampai dengan usia 19 tahun. Menurut Undang - Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 pasal 1 ayat 1 tentang perlindungan anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk juga yang masih di dalam kandungan.
Anak adalah permata indah yang keluguannya alamiah. Manjanya membuat lelah orang tua sirna tak berbekas. Senyumnya adalah bunga-bunga cinta, Airmatanya adalah butiran kesedihan yang sangat berharga, lenggak lenggoknya bak tarian ombak dilautan yang menggetarkan jiwa. Bahkan tangisnya adalah kehangatan di tengah kesepian.
Kehadiran anak merupakan amanah yang dititipkan Allah SWT kepada kita. Kita sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk menjaga, merawat, membina, mendidik, mengarahkan karena suatu saat anak kita akan diambil kembali oleh pemiliknya yaitu Allah SWT. Mendidik anak tidak semudah membalikan telapak tangan, membutuhkan kesabaran, ketelatenan, tauladan dan tentu ilmu. Karena setiap fase anak memiliki keunikan dan juga penanganan yang berbeda-beda.
Semisal anak di usia 0-6 bulan dia baru bisa menangis dengan berbagai model untuk menunjukan kepada kita bahwa dia lapar, sakit, basah atau kesepian. Atau bersuara denagan intonasi yang bermacam-macam untuk mengekspresikan ketidaknyamanannya. Maka penanganan bayi seperti ini kita mesti memberi respon dengan cara mengajaknya berbicara dan yang perlu diperhatikan adalah gunakan ungkapan yang tepat misalnya susu bukan cucu, pergi bukan pegi dan seterusnya.
Apabila anak menginjak usia 6-12 bulan dimana dia sudah bisa menggerak-gerakkan tangan dan melambaikannya serta sudah mengerti nama-nama benda atau tempat-tempat yang sering ditunjukkan seperti kamar tidur, kamar mandi, dapur maka yang bisa orang tua lakukan ialah mengenalkan sebanyak mungkin objek kepada anak serta menjelaskannya sebagai pembelajaran bagi anak. Disamping itu iringi dengan nyanyian lagu-lagu yang merangsang motorik anak atau lebih bagusnya dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran.
Pada usia 4-5 tahun anak sudah mulai mengenali huruf yang diajarkan bahkan sudah ada yang bisa membaca atau menulis namanya. Mengenali kata-kata familiar dalam buku atau dalam bahasa sehari-hari, selain itu juga sudah mengenali tanda, misalnya tanda stop, tanda dilarang dan seterusnya. Dalam hal ini orang tua bisa sering mengajak anak-anak ke toko buku, perpustakaan atau tempa-tempat rekreasi. Semua ini akan memperkaya pikirarnnya dan tidak lupa untuk merangsang anak agar mau menceritakan pengalamannya setelah berkunjung.
Begitupun anak diusia SD yang sudah lebih memahami dirinya dan sudah siap bersosialisasi dengan teman-temannya. Bimbingan yang intensif serta pengawasan kepada anak-anak harus terus dilakukan agar anak tidak salah dalam melakukan tindakan. Orang tua juga jangan pelit memberi pujian atau reward pada saat anak melakukan suatu kebaikan karena hal itu akan menambah semangatnya.
Anak adalah aset bangsa yang sangat berharga. Mereka merupakan generasi penerus yang akan hidup dizamannya dengan beragam tantangan. Tantangan yang sangat besar adalah gempuran penggunaan media sosial. Terlepas dari sisi positifnya yang apabila digunakan dengan baik akan sangat bermanfaat namun efek negatifnya sangat besar ditambah dengan lemahnya mental anak-anak. Maka tidak mengherankan apabila kita sering menyaksikan berbagai kenakalan. Mulai dari tawuran, bullying, penyalahgunaan narkoba, pencurian bahkan penganiayaan yang berujung pada kematian.
Selain dari pengaruh media sosial, beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya pola asuh keluarga yang kurang tepat, serta pengaruh lingkungan. Berkaitan dengan pola asuh keluarga. Dr. Netty Prasetiyani Heryawan, M.Si menjelaskan bahwa tiga macam pola asuh yang mesti dipahami serta dilaksanakan oleh para orang tua agar pendidikan karakter dikeluarga berhasil. Pola asuh tersebut diantaranya. Pertama, Interaksi. Dalam hal ini sebagai orang tua mesti sering melakukan interaksi dengan anak dan menempatkannya sebagai sahabat agar setiap keluh kesah anak bisa didiskusikan dengan baik dan tidak ada rasa kaku. Kedua, Stimulasi. Orang tua mesti memberikan stimulasi kepada anak sekaligus pemahaman agar anak lebih mengerti tentang hakikat kehidupan serta pemahaman tentang penggunaan media sosial yang semakin menjamur. Dengan demikian diharapkan anak bisa lebih bijak dalam penggunaan media sosial. Ketiga, Konsisten, orang tua harus konsisten pada saat memberikan hukuman kepada anak. Apabila seorang anak melanggar peraturan dan sudah disepakati bersama sehingga anak merasa segan kepada orang tuanya bukan sekadar rasa takut yang kadang manipulatif. Orang tua tidak boleh plin plan yang membuat anak tidak percaya.
Faktor selanjutnya yang sangat mempengaruhi prilaku anak ialah lingkungan. Lingkungan adalah tempat bagi anak untuk hidup bersosialisasi dengan teman-temannya. Dengan seringnya berkumpul, bermain, berinteraksi maka segala sesuatu yang berkaitan dengan prilaku baik maupun buruk akan cepat menular. Kewajiban orang tua selain mengawasi dengan ketat juga memberikan pemahaman kepada anak agar bisa menjaga diri dan tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif.
Dari semua faktor yang mempengaruhi anak, maka pendidikan karakter sejak dini menjadi solusi. Pendidikan karakter merupakan sistem pendidikan yang berupaya menanamkan nilai-nilai luhur. nilai-nilai luhur budaya bangsa yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter yang pertama dan utama adalah dari keluarga. Karena dalam keluarga, anak-anak akan mendapatkan pendidikan karakter dasar yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan mereka, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Lebih dari itu, menurut Ahmad Tafsir, melakukan pendidikan agama dalam keluarga, berarti ikut berusaha menyelamatkan generasi muda.(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar