Kamis, 02 Februari 2023

BEDAH BUKU "MUDIRUNA" DAN MOTISANTRI


  BEDAH BUKU "MUDIRUNA" DAN MOTISANTRI

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

 

"Wah acaranya seru banget, jadi tambah semangat".

"Beneran acaranya tidak membosankan bahkan ketagiahan, semoga nanti ada lagi".

"Alhamdulillah saya dapat doorprize buku dan uang".

"Saya senang belajar di Pondok Pesantren Modern Ar Rahmat".

 

Itulah beberapa ungkapan kebahagiaan para santri Pondok Pesantren Modern ar Rahmat pada acara Bedah Buku "MUDIRUNA" yang dibawakan oleh DR.Saeful Fallah, M.Pd dari Ummul Quro University Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari selasa, 31 Januari 2023 di GOR Ar Rahmat. Lebih dari 400 peserta yang hadir, terdiri dari para santri dan asatid. Sejak pukul 08.00 WIB Mereka sudah berada di lokasi dengan iringan hadroh ar Rahmat. Antusias para santri pada kegiatan ini begitu tinggi, karena kegiatan semacam ini baru pertama kali di Pondok Pesantren Modern ar Rahmat sehingga mereka penasaran ingin bertemu langsung dengan penulisnya serta mendapatkan motivasi belajar. 

 

Bapak DR.Saeful Fallah bersama rombongan melakukan roadshow ke beberapa pondok pesantren yang ada alumni Ummul Quro. Selain untuk silaturahim, bedah buku juga memberikan motisantri agar para santri kerasan tinggal di pondok pesantren dan sukses dikemudian hari seperti  KH.Helmy pendiri Ummul Quro yang sudah sukses dengan ribuan santri.

 

Acara bedah buku dimulai dengan basmallah yang dipandu oleh dua orang MC, kemudian dilanjut dengan sambutan dari wakil pengasuh yaitu ust.Arif Miftahurrahman. Dalam sambutannya beliau mengungkapakn rasa syukur dan bahagia karena kedatangan Ketua Yayasan, Rektor sekaligus sahabat beliau pada saat di Ummul Quro. Harapan beliau semoga dengan acara ini bisa menambah spirit bagi para santri dan asatid ar Rahmat. Mereka mampu berjuang untuk menimba ilmu dan sukses dikemudian hari. Selain itu, permohonan maaf beliau sampaikan atas segala kekurangannya.

 

Pada acara inti, bapak DR.Syaiful Falah, M.Pd. pertama kali menyapa para santri menggunakan Bahasa Arab. “Kaifa Haaluk?”. Para santri dengan serempak menjawab. “Inni bikhoir ya ustadz”. Kemudian beliau melanjutkan, “Kalau saya bilang selamat pagi, maka kalian tepuk satu kali, kalau selamat siang tepuk dua kali, selamat sore tepuk tiga kali dan selamat malam tidak ada tepuk tangan atau tidak ada suara”. “Fahimtum?”. Ujar beliau. “Fahimna ya ustadz”. Jawab para santri dengan semangat. Kemudian bergemuruhlah suara tepuk tangan menggema memenuhi ruangan gor tercinta kebanggaan ar Rahmat.

 

Dalam paparannya, beliau menyampaikan perjalanan kehidupannya yang cukup terjal dan berliku. Namun beliau menjalaninya dengan ikhlas. Peristiwa yang tidak terduga sering beliau alami yang kemudian diambil pelajarannya untuk kebaikan dimasa mendatang. Beliau berpesan kepada para santri ar Rahmat agar mampu melakukan empat langkah jitu untuk masa depan yang lebih cerah. Pertama, Hijrah. Hijrah artinya pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan menimba ilmu, menambah wawasan dan pengalaman. Pindah dari kemalasan menjadi rajin belajar, pindah dari tidak bermanfaat menjadi manfaat. Hijrah seperti ini sudah dicontohkan oleh baginda Rasul Muhammad SAW yaitu dari Mekkah ke Madinah dan hasilnya luar biasa menjadikan Islam menyebar begitu luas di seluruh dunia. Begitu juga guru kita KH. Helmy pendiri Yayasan Ummul Quro yang sudah hijrah dari kampung halamannya menuju daerah Bogor pada usia 12 tahun. Dan para santri juga sudah melakukan hijrah dari rumah menuju pesantren untuk menimba ilmu baik agama maupun umum serta pembentukan akhlaq yang akan berguna dikemudan hari. Oleh karena itu jangan menyia-nyiakan waktu di pesantren. “Al waktu kasyaif. Waktu itu ibarat pedang”. Ungkap beliau.

 

Kedua, Sabar. Seorang santri harus bersabar dalam mencari ilmu. Pantang menyerah dalam menghadapi problema yang terjadi dikehidupan pesantren serta pantang mengeluh dari padatnya agenda yang dijalani setiap hari. Karena hanya dengan bersabar seseorang akan beruntung. Sabar dalam pandangan beliau seperti memakan buah mahoni yang rasanya sangat pahit. Butuh kekuatan dalam diri untuk menahan rasa pahit tersebut yang kemudian menjadi manis diakhirnya. Sama halnya dengan tinggal di pesantren, menu makanan tidak mewah namun nikmat rasanya, tidur dimana saja tidak jadi masalah yang penting pulas karena tidak sedikit orang yang bergelimang harta namun susah tidur. Jadwal pelajaran begitu padat seolah-olah tidak ada waktu untuk bermain karena disibukkan dengan kegiatan positif. Semua itu harus dijalani dengan sabar.” Ash shobru kash sibri, murrun fii madzaaqotihi laakinna ‘awaaqibuhuu ahlaa minal ‘asali”. Kesabaran itu bagai shiber (sejenis tanaman obat) yang rasanya pahit akan tetapi hasil yang didapatkan setelahnya lebih manis daipada madu. Santri harus mau berjuang, jangan sedikit-sedikit capek, ngantuk, malas tetapi harus tetap semangat demi masa depan yang lebih cerah.

Pada sesi ini beliau memberikan kesempatan kepada para santri yang bisa menerjemahkan mahfudhot “man shobaro dhofiro”. Apabila ada yang bisa menjawabnya dengan tepat maka akan diberikan reward berupa buku. Ternyata para santri ar Rahmat cerdas-cerdas dan berani, salah satu dari santri putra SMP mampu menerjemahkan mahfudhot tersebut dan akhirnya mendapatkan reward. Alhamdulillah.

Ketiga, Belajar. Belajar bagi para santri menjadi menu pavorit setiap hari. Karena hanya dengan belajarlah kita bisa hidup sejahtera didunia maupun akhirat. Belajar tidak mengenal usia, belajar tidak ada kata terlambat dan belajar harus dilakukan sepanjang hayat seperti pesan Rasulullah SAW : “Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.  

Sejenak mari kita mengingat kisah ulama besar asal Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi rujukan para ulama Indonesia bahkan dunia. Beliau juga seorang imam masjidil haram dan masjid nabawi. Beliau adalah Syekh Nawawi Al-Bantani, beliau merupakan guru  atau pengajar sekaligus ilmuwan yang melahirkan banyak kitab dan literatur untuk generasi mendatang. Beliau dilahirkan pada tahun 1230 H/1813 M di Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Ketika usia 5 tahun, Syekh Nawawi bersama saudara-saudaranya mendapat pendidikan langsung dari ayahandanya. Ilmu-ilmu yang dipelajari meliputi pengetahuan dasar bahasa Arab, Fiqih, Tauhid dan Tafsir. Setelah 3 tahun belajar pengetahuan dasar tersebut, Syekh Nawawi kemudian menimba ilmu ke beberapa pesantren dan Jawa. Kemudian beliau belajar ke Mekkah selain untuk menunaikan ibadah haji. Sekitar 30 tahun beliau belajar disana dan kemudian mengamalkan ilmunya dengan mengajar dan menuangkan ide-idenya dengan mengarang berbagai kitab.

Berkaitan dengan belajar ustad Syaeful Fallah melemparkan pertanyaan kepada para santri. “Siapa diantara kalian yang berani menyebutkan 6 syarat mencari ilmu yang terdapat dalam kitab Ta’lim Al-Muta’alim?”. Tidak lama kemudian ada salah satu santriwati kelas 6 MAU maju ke panggung dan disambut dengan gemuruh tepuk tangan oleh santri yang lain. Santriwati tersebut menjelaskan dengan lantang dan rinci. “Dalam kitab Ta’lim Muta’alim Syaikh Az-Zarnuji menuliskan dua bait syair dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A. kedua bait syair tersebut yaitu : “Ingatlah!! Kalian tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan enam syarat, yaitu cerdas, bersungguh-sungguh, sabar, biaya, petunjuk ustad dan lama waktunya”. Ungkapnya. Ust. Syaiful Fallah merasa bangga dengan santri ar Rahmat dan tidak segan-segan memberikan reward berupa buku Mudiruna dan juga uang.

Pada syara kelima yaitu petunjuk ustad, beliau mengisahkan pengalaman KH Helmy yang sempat dikeluarkan dari kelas karena setiap pelajaran Al-Jabbar selalu tidur, alasanya karena tidak suka dengan pelajaran tersebut dan merasa tidak bisa. Suatu hari beliau hendak ke kelas untuk mengikuti pelajaran, namun belum sampai ke ruang kelas gurunya menulis di papan tulis “Helmy keluar”. Nama panggilan pada waktu itu. Sontak saja Kiyai Helmy kaget dan tidak jadi masuk kelas serta kembali ke hujroh/kamar. Dari kejadian tersebut beliau mulai merenung dan kemudian menyadari perbuatannya yang salah. Akhirnya beliau menemui gurunya untuk meminta maaf. Namun gurunya tidak mau memaafkan, Kiyai Helmi tidak putus asa dan melakukannya sampai tiga hari. Sebagai seorang guru yang sayang kepada semua santrinya akhirnya beliau mau memaafkan Kiyai Helmy serta memperbolehkannya untuk ikut belajar di kelas. Sejak saat itu Kiyai Helmy tidak pernah tidur dikelas bahkan sangat giat belajar dibanding dengan teman-teman yang lainnya dan pada akhirnya beliau lulus dan mendapatkan nilai terbaik. Ini adalah bukti bahwa petunjuk ustad itu sangat penting, maka para santri ar Rahmat wajib hukumnya taat kepada ustad agar mendapatkan keberkahan dikemudian hari.

Keempat, Akhlaqul karimah. Pesantren adalah tempat pembentukan akhlaq. Para santri bukan hanya sekadar mendapat ilmu tentang akhalq namun lebih dari itu yaitu teladan para asatid dan itu menjadi bagian dari pendidikan terbaik. Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT yaitu untuk menyempurnakan akhlaq. Dan dengan akhlaq yang sempurna akhirnya Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia serta menjadi rahmatan lil ‘alamin. Inilah yang harus ditiru dan dipraktekkan oleh para santri ar Rahmat.

Pada sesi terakhir beliau menyampaikan bahwa para santri harus semangat belajar, selalu taat kepada para ustad dan juga banyak membaca. Dengan banyak membaca akan mendapatkan asupan gizi bagi otak dan bisa menuangkannya dalam tulisan sehingga dikemudian hari bisa menjadi para penulis hebat yang karyanya abadi dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Beliau juga menyampaikan bahwa seorang santri harus bisa menjadi apa saja selagi itu bermanfaat.

Acara berakhir dengan sesi photo bersama dan mushofahah. *

Tidak ada komentar:

MARHABAN YA RAMADHAN

  MARHABAN YA RAMADHAN Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I Waktu terus berjalan seiring dengan perputaran bumi pada matahari. Hari ter...