Rabu, 15 Februari 2023

PERJALANGAN KE KOTA TEGAL

 

 

PERJALANGAN KE KOTA TEGAL

Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I

 

MENIKMATI INDAHNYA OBJEK WISATA GUCI

Kabut putih dan tebal menyelimuti angkasa raya, tetesan air hujan yang terus mengguyur bumi mengiringi perjalanan kami menuju Objek Wisata Guci, udara berhembus terasa sejuk menelusuk kulit seolah-olah ingin menyatu dengan hangatnya tubuh. Medan jalan yang terjal dan berliku membuat spot jantung berdegup kencang, terlebih pada saat belokan dan berpapasan dengan mobil berlawanan, memaksa bus yang kami tumpangi berhenti sejenak karena jalan yang sempit dan licin. Bahkan alunan musikpun mendadak dimatikan untuk menjaga konsentrasi pak supir. Ketua panitia selalu mengingatkan kepada peserta wisata untuk terus memanjatkan doa dan dzikir demi keselamatan kita semua. Sementara pak supir mengendarai busnya dengan tenang dan dan penuh konsentrasi.

Tiba di lokasi parkir bus sekitar pukul 08.30. Masih ditemani air hujan yang semakin deras. Hujan yang membawa berkah, hujan yang menjadikan suasana sejuk namun sekaligus menghawatirkan, karena kita berada diatas gunung dengan ketinggian ­+ 1.050 M diatas permukaan laut. Tetapi tidak membuat peserta tour kecewa. Rasa senang dan bersyukur nampak diraut wajah mereka karena dapat menghilangkan kepenatan dan kejenuhan setelah sekian hari beraktifitas.

Perjalanan kami dilanjutkan ke lokasi pemandian air panas. Dengan menggunakan mobil bak terbuka yang ditutup dengan terpal, supaya tidak kena air hujan. Satu mobil mampu menampung 12-15 orang. Kebahagiaan kami semakin terlihat setelah sampai di dekat kolam renang. Disitulah kami berpisah untuk mandi di kolam yang disukai. Ada yang di kolam renang dengan ticket 4.000 – 5.000, ada juga yang di pancuran tujuh dekat sumber mata air.

Yang sangat terkesan ketika mandi di air hangat Guci ialah ketika pertama kali kulit menyentuh air. Rasa panas sangat terasa karena kulit mulai beradaptasi sehingga tidak sedikit yang berteriak kepanasan, tetapi setelah beberapa saat berada di kolam renang terasa hangat dan tidak mau berhenti berenang. Bukan hanya orang dewasa, ibu-ibu, para pemuda, tetapi anak-anakpun ikut larut dalam suasana kebahagiaan dan kehangatan kolam renang Guci.

Memang kami akui, kolam renang air panas seperti ini jarang kami temui di daerah kami. Sehingga, sekalipun jaraknya cukup jauh dan berliku, dengan senang hati kami mengunjunginya. Mandi di air panas Guci dianjurkan tidak terlalu lama terlebih bagi yang memiliki penyakit darah tinggi, jantung koroner, liver, ginjal  dll. Maksimal 15 - 20 menit untuk menghindari resiko yang ditimbulkan.

Mereka sepertinya enggan berpisah dengan tempat ini. Namun hendak dikata, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah yang mereka takutkan namun akhirnya dialami pula.

Menjelang shalat Dzuhur, kami meninggalkan tempat yang indah ini. Sebelum memasuki mobil bak terbuka, kami sempatkan photo bersama dengan sebagian peserta. Ada juga yang sengaja membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah karena beranggapan harganya cukup terjangkau. Dan setelah semua peserta berkumpul, kami berangkat menuju bus yang sudah menunggu. Selamat tinggal Guci, gumamku dalam hati. Kapankah kami dapat kembali ke sini, itulah pertanyaan dalam bisikku. Mungkin semua peserta berbisik seperti ini. Karena terlihat di mata mereka, kerinduan, masih ingin bersama, dan enggan meninggalkannya.  

Perlahan bus yang kami tumpangi meninggalkan Guci dengan menyimpan rasa penasaran yang mendalam, kenapa tempat ini dinamakan Guci ? memang unik nama tempatnya dan tentu menyimpan sejarah yang penuh hikmah. Setelah kami mencari informasi tentang sejarah Guci barulah kami memahami.

Berdasarkan sejarahnya, nama Guci, konon berasal dari zaman Walisongo. Untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah bagian barat, khususnya di sekitar Tegal, diutuslah seorang wali. Wali tersebut dibekali air yang ditempatkan di dalam sebuah guci atau poci. Masyarakat percaya bahwa air dalam guci tersebut bisa berkhasiat sehingga berbondong-bondong meminta kepada sang wali.

Namun karena jumlah air tersebut jumlahnya terbatas, padahal masyarakat yang ingin menikmatinya begitu banyak, maka sang wali kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah. Ketika tongkatnya dicabut, ajaib, dari lubang di tanah bekas tongkat yang ditancapkan mengalir air panas.

"Air panas tersebut sampai kini masih mengalir dan dimanfaatkan masyarakat menjadi pemandian. Lalu, tempat tersebut kemudian terkenal dengan nama Guci," ucap pengelola Objek Wisata Guci, Abdul Haris.

Demikian sejarah Objek Wisata Guci yang sampai hari ini pengunjungnya terus  bertambah terutama di hari libur.

 

MENIKMATI ALUNAN OMBAK DI PANTAI PAI

Untuk menghibur peserta wisata yang masih rindu dengan Obyek Wisata Guci, panitia menutup kegiatan wisata kali ini dengan jalan-jalan ke Pantai Alam Indah di Kota Tegal Jawa Tengah. Letaknya cukup jauh dari obyek wisata Guci, sekitar 47 KM atau kalau menggunakan kendaraan sekitar 1 jam 35 menit.   

Di tengah perjalanan, kami sangat menikmatinya, terlebih ketika ketua panitia mendendangkan lagu-lagu andalannya yang membuat suasana di dalam bus terasa meriah.

Tiba di lokasi pantai sekitar pukul 12.30 WIB. Sebelum menuju pantai, kami melaksanakan shalat Dhuhur berjama’ah disalah satu Mesjid terdekat. Setelah itu, kami menuju bibir pantai yang sangat indah. Udara yang berhembus terasa sejuk seolah-olah menyambut kedatangan kami, deburan ombak kecil yang datang menghampiri menjadikan suasana terasa sempurna, cuaca pada saat itu cukup cerah sekalipun agak mendung. Benar-benar suasana yang sangat santai, penuh kekeluargaan dan kebahagiaan. Terlihat ada yang berjingkrak-jingkrak, mengambil photo bareng, dan tak sedikit pula yang selfi di bibir pantai.

Kata orang, pantai ini indah sekali. Sesuai dengan namanya Pantai Alam Indah, memang tidaklah berlebihan jika pantai ini dikatakan Pantai Alam Indah. Walaupun keindahannya tidak sebanding dengan pasir putih di Pangandaran. Tapi setidaknya cukup mengobati kerinduan kami akan keindahan pantai.

Lebih dari 2 jam  kami menikmati keindahan Pantai Alam Indah ini. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Kami pun bergegas menuju tempat parkir dimana bus rombongan kami mengunggu.

Akhirnya dengan berat hati, rombongan kami meninggalkan Pantai Alam Indah. Perlahan bus meninggalkan tempat parkir menuju Kota Majalengka. Selang beberapa menit, tak terdengar lagi suara, canda dan senda gurau peserta. Hanya deru mesin mobil dan alunan music yang tak berhenti sejak keberangaktan kecuali pada saat tanjakan berliku. Peserta terlelap tidur termasuk panitia yang dari awal mengatur perjalanan supaya tertib dan berjalan lancar.

Setelah beberapa saat kami istirahat di sebuah rumah makan daerah Brebes. Disini nampaknya ada sedikit insiden yang cukup menegangkan. Dimana penjual makanan dengan tegas mematok harga yang cukup tinggi dan tidak sewajarnya sehingga membuat peserta wisata protes. Padahal sebelam berangkat kita makan di tempat yang sama dan menu makanan yang sama dengan harga normal. Akhrinya, untuk mengatasi ketegangan yang semakin runcing. Ketua panitia Bapak H.Casmadin dengan tegas dan berwibawa menyelesaikannya dengan cara yang elegan dan masuk akal. Yang akhirnya semua menerima dengan lapang dada, terutama  menjadi pelajaran bagi pemilik warung.

Setelah beberapa saat, rombongan peserta wisata melanjutkan kembali perjalanan pulang. Beberapa peserta masih tertidur pulas. Namun sebagian ada yang bertanya-tanya, kita sudah sampai di mana?

Kelelahan peserta masih terlihat diraut wajah mereka. Namun terselip pula rasa bangga di matanya. Karena akhirnya dapat mengunjungi kota  wisata yang kental dengan sejarah. Kegiatan tour kali ini semoga menjadi kenangan yang tak kan terlupakan selamanya. Bahkan mungkin jadi cerita menarik di masa-masa nanti setelah kita memiliki anak cucu.

Minggu, 01 Maret 2020 jam 17.30 WIB, bus akhirnya merapat di depan kantor korwil kecamatan Palasah. Setelah berpamitan dengan panitia kami pun kembali ke rumah dengan membawa cerita masing-masing. (and)


Tidak ada komentar:

MARHABAN YA RAMADHAN

  MARHABAN YA RAMADHAN Oleh : Andri Dian Suandri, S.Pd.I Waktu terus berjalan seiring dengan perputaran bumi pada matahari. Hari ter...